MASALAH DAN JALAN KELUARNYA
Ketika kita dihadapkan pada suatu masalah, sepertinya beban hidup menjadi berat. Kita menjadi mudah marah, sedih yang berkepanjangan bahkan kemudian juga stress yang kesemuanya membuat kita tidak berhenti berpikir sekaligus juga tidak bisa tidur nyenyak. Atau bahkan membawa pengaruh buruk dalam hubungan kita dengan sesama.
Sebenarnya yang namanya hidup tidak akan pernah lepas dari masalah. Masalah bisa kita temui di mana-mana. Masalah dalam keluarga, di tempat bekerja atau pun di mana saja. Ada suatu pandangan yang mungkin bisa menambah referensi mengenai masalah dan jalan keluarnya. Ketika kita memandang sesuatu adalah masalah maka yang menciptakan masalah itu menjadi beban atau tekanan adalah diri kita sendiri.
Coba perhatikan 2 pernyataan berikut ini :
Pertama :
Masalah adalah selisih antara harapan dengan realita. Masalah adalah selisih antara apa adanya dengan bagaimana seharusnya. Ketika apa yang dialami tidak sesuai dengan yang diharapkan, sesungguhnya masalah sudah muncul. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah masalah itu menimbulkan tekanan?
Kedua :
Dalam hidup ini berlaku hukum kekelan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tidak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.
Pernyataan pertama dan kedua kalau kita kaji lebih jauh memiliki korelasi dalam konteks kita memandang sesuatu sebagai masalah dan bagaimana kita menyelesaikannya.
Ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan harapan kita, maka pilihan untuk menentukan langkah apa yang sebaiknya kita lakukan akan membentuk energi di sekeliling kita dimana energi tersebut akan kembali kepada kita. Misalnya saja, Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup mau pun kepuasan bathin yang tidak bisa diukur dengan materi, dll.
Demikian pula sebaliknya, keburukan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk permusuhan, musibah, penyakit, kebodohan, dll.
Banyak contoh yang bisa kita ambil hikmah dan pelajaran dalam keseharian kita berinteraksi dengan keluarga, teman, bawahan, atasan bahkan orang yang tidak kita kenal sekali pun.
Sebagai contoh, ketika kita menemukan bahwa bawahan/teman kita mengerjakan sesuatu tidak seperti yang kita harapkan atau atasan kita memberikan penghargaan tidak seperti yang kita harapkan, kita sendirilah yang menentukan apakah ini menjadi masalah atau bukan. Karena semakin kita perbesar harapan kita dan kita tidak bisa memanage harapan kita tersebut maka kita sudah memutuskan hal tersebut menjadi suatu masalah. Dan ketika kita sudah sampai pada keputusan ini maka pilihan akan tindakan yang akan kita ambil sebaiknya kita pikirkan masak-masak. Bisa saja kita menjadi membenci anak buah/teman/atasan kita, ketika itu terjadi maka akan terlihat pada perbuatan kita ke orang tersebut. Sikap kita akan menciptakan kebencian dimana secara tidak sadar sebenarnya kita sudah menciptakan energi negatif yang ujung-ujungnya adalah suatu saat energi negatif ini akan kembali kepada kita, bisa dalam bentuk penilaian orang bahwa kita adalah orang yang pemarah, tidak bisa diajak kerjasama atau hal lain yang tentunya merugikan diri kita sendiri. Atau kita memutuskan untuk mengambil tindakan yang positif, kita kaji lebih jauh mengapa anak buah/teman kita tidak sesuai harapan kita, kita bantu dia untuk mencapai apa yang menjadi harapan kita. Demikian juga dengan atasan kita, kita terima dengan besar hati dan tetap menunjukkan semangat kerja. Energi positif yang kita bentuk, suatu saat akan berbalik kepada kita dalam bentuk kebaikan lain dengan tidak di duga-duga. Bisa berbentuk pujian, kepuasan hati atau bahkan rejeki yang tidak terduga-duga dan keharuman nama baik kita terdengar oleh banyak orang yang membuat kita banyak diterima oleh semua orang.
Atau, contoh lain adalah ketika di tempat parkir, kita sudah mendapatkan terlebih dahulu tempat untuk memarkir mobil kita lalu dengan tidak disangka-sangka mobil lain menyerobot tempat tersebut. Apa yang akan kita putuskan? Masalahkah ini bagi kita? Jika ya, tindakan apa yang akan kita ambil? Marahkah? Atau berbesar hati memberikan tempat tersebut kepada orang yang tidak kita kenal. Atau menegur baik-baik orang tersebut?
Contoh lainnya juga adalah, kita bekerja di suatu tempat sudah cukup lama, gaji kecil, status tidak pernah berubah. Kita mempunyai suatu harapan bahwa dengan masa kerja yang sudah 15 tahun, gaji seharusnya sudah puluhan juta dengan jabatan minimal sudah jadi manager atau bahkan general manager. Masalahkah ini buat kita? Jika ya tindakan apa yang akan kita ambil? Marah dengan situasi kemudian berdampak kepada prestasi kerja? Atau easy going karena merasa bahwa masih banyak kok orang lain yang nasibnya sama atau bahkan lebih buruk lagi. Atau mencoba menemukan harapan tersebut dengan memutuskan pindah ke tempat lain?
Apa pun keputusan akan tindakan yang akan kita ambil maka akan berdampak dan berbalik kepada diri kita sendiri.
Atau, begitu kita memutuskan bahwa sesuatu adalah masalah, tindakan yang kita ambil justru lebih membawa pengaruh buruk ke diri sendiri misalnya sedih yang berkepanjangan, stress, dll. Ini pun kita membentuk energi negatif yang tentunya dampak dari ini adalah kembali ke kita dalam bentuk lain seperti jadi tidak bersemangat, bawaannya mau marah kalau menghadapi orang atau bahkan sakit, dan lain-lain yang pada akhirnya merugikan diri kita sendiri.
Di atas hanya beberapa contoh yang ada dalam keseharian kita. Masih banyak lagi hal-hal yang kita hadapi yang membutuhkan kebesaran dan kelapangan hati dalam mensikapi sesuatu.
Maka, kalau ada dari teman, saudara, atasan, bawahan mengeluh akan sesuatu, saya hanya bisa berkata dalam hati bahwa dalam lingkaran kehidupan ini, sesuatu yang terjadi atas diri kita sebenarnya ada kontribusi diri kita sendirilah yang menyebabkan hal tersebut.
Ketika kita bisa memanage kadar harapan kita tentunya semakin sempit kita memutuskan sesuatu menjadi masalah. Jika kita tidak bisa memanage kadar harapan kita, maka semakin besar kemungkinan kita memutuskan segala sesuatu menjadi masalah. Dan berhati-hatilah mengambil tindakan selanjutnya untuk menghadapi masalah kita tersebut, karena sekali lagi, pilihan akan tindakan tersebut adalah mutlak ada di diri kita sendiri.
Jadi menentukan sesuatu sebagai masalah tergantung seberapa besar harapan kita..Pintar-pintarlah memanage harapan kita, perbesarlah toleransi jika kenyataan tidak sesuai harapan. Kebesaran dan kelapangan hati dibutuhkan untuk dapat memanage harapan kita.
Begitu kita memutuskan sesuatu sebagai masalah, berhati-hatilah juga dalam menentukan pilihan tindakan apa yang akan kita lakukan dalam mengatasi masalah tersebut karena energi yang terbentuk dari tindakan yang sudah kita pilih tersebut akan berbalik kepada kita. Kebesaran dan kelapangan hati pulalah yang kita butuhkan untuk menentukan pilihan atas tindakan yang akan kita ambil.
Untuk berlatih menumbuhkan kebesaran dan kelapangan hati dibutuhkan kesadaran yang tinggi begitu kita memandang bahwa sesuatu adalah suatu masalah. Langsung ubah cara pandang kita – ”Shift your paradigm” dengan mengatakan kepada diri kita bahwa ini bukan masalah, bahwa ini yang terbaik yang diberikan Yang Kuasa kepada kita, bahwa jika kita memaksakan harapan kita berarti kita memaksakan sesuatu yang belum tentu baik buat kita. Karena ada Yang Maha Tahu apa yang terbaik buat kita.
Demikian juga begitu kita memutuskan suatu tindakan. Latihlah kebesaran dan kelapangan hati dengan tanamkan di pikiran kita bahwa efek dari energi positiflah yang sebaiknya harus terus menerus kita tumbuhkan. Kebaikan, keberuntungan, nama baik, rejeki yang tidak terduga-dugalah yang akan kita nikmati begitu dengan kesadaran penuh kita memutuskan untuk mengambil tindakan yang positif. Dan dari semua cara yang paling jitu untuk menumbuhkan kebesaran dan kelapangan hati adalah memelihara rasa syukur. Karena jika dengan penuh kesadaran kita selalu mensyukuri apa yang kita miliki, terima dan terjadi pada kita, maka secara otomatis cara pandang kita terhadap masalah akan semakin sempit karena kita adalah orang yang bisa memanage harapan kita dengan baik.
Leave a comment