SMP…
Salam kasih sayang…
Asskm Wr Wb
SMP…
Buat judul SMP jadi mengingatkan saya akan singkatannya yg dulu sempet popular.. Sudah Makan Pulang… tp bukan ini yg ingin saya sampaikan dalam sharing kali ini… Bukan pula singkatan Sekolah Menengah Pertama. SMP atau singkatan dari Sanggupkah Melakukan Pengakuan, tiba-tiba terbersit begitu saja ketika saya baru beberapa halaman membaca sebuah buku… buku yang sangat menginspirasi…
Selama ini sdh sering saya mencoba untuk mengungkapkan suatu ide bahwa pengakuan merupakan langkah awal utk membuka hati kita bisa melihat segala sesuatu lebih jernih krn bagi saya hal ini benar-benar sesuatu yg merupakan awal diri kita mempersiapkan hati untuk bisa menerima cahaya… dan baru bbrp halaman membacanya, alhamdulillah, saya sangat bersyukur saya diberikan buku ini. Sangat menambah pengetahuan saya dan suatu tema dalam satu bab buku ini spertinya sejalan dengan pengertian saya mengenai pengakuan. Mungkin saya bisa salah karena keterbatasan ilmu saya.. tetapi tidak ada maksud menggurui atau melakukan pembenaran, keinginan saya untuk share mengenai ‘pengakuan’ ini membuat saya mulai menulis lagi….
Apa yg kita rasakan sebagai masalah sering menimbulkan kesal, kecewa, sedih. Dan semakin lama kita hanya membiarkan diri kita berfokus bahwa penyebab semua rasa ‘negatif’ tersebut adalah hal lain di luar diri kita. maka hal ini akan menyebabkan masalah itu akan bertahan cukup lama atau bahkan bercokol seterusnya… dan tentunya kita akan merasakan yg namanya ‘penderitaan’… mungkin apa yg saya sampaikan membingungkan. Cobalah bertanya pada diri kita.
– Saat ini apakah kita punya masalah?
– dengan siapakah kita punya masalah? Suami? Anak? Teman sejawat? Biasanya ketika kita sudah merasa punya masalah, maka kita akan marah, menyalahkan ‘orang-orang’ tersebut yang kita anggap merekalah yang menyebabkan masalah ini. Kita lebih sering menunjuk dengan menyalahkan pihak di luar diri kita. Dan ujung-ujungnya kita tertekan karena ‘berharap’ orang tersebutlah yang harus berubah atau pun meminta maaf terlebih dahulu jika ingin hubungan membaik.
Mungkin beberapa sahabat yang membaca hal di ataspun berpikiran sama…, ya memang seperti itu. Dia yang salah, dia yg telah membuat hari-hari saya tidak menyenangkan, dia telah membuat diri saya tertekan…
Pertanyaannya lagi, pernahkah kita mengakui bahwa ada kontribusi kita bahwa orang, situasi yang tidak menyenangkan yang kita rasakan adalah juga karena ada kontribusi kita? Jarang sekali kita melakukan ini. Atau kalaupun ada, mungkin gak banyak yg bisa melakukan pengakuan ini. Yang pada akhirnya adalah sedih dan kecewa berkepanjangan, kebencian yg mulai timbul dan tertanam dalam hati, dendam yang mungkin kita simpan sedalam mungkin dalam hati dan pikiran kita…
Kalau saja kita tahu bahwa ketika kita melakukan pengakuan, ya saya yg salah, ada kontribusi saya, sayalah yang menyebabkan hal ini… ketika ini dilakukan, kita sedang melakukan ‘penghentian perkembangan nafsu atau ego dalam diri kita’. Ya… ego bekerja begitu halus. Dia hanya akan melihat bahwa orang atau hal-hal di luar diri kitalah penyebabnya… ego akan menghancurkan diri kita. Ego akan membentuk kekerasan hati kita. Ego akan selalu membisikkan, orang lain salah kita yang benar dan ego akan menghampiri kita bahwa kemarahan yang kita lakukan untuk ini adalah sesuatu yang normal yang memang harus dilakukan. Hati dan pikiran kita hanya akan melihat semua hal buruk terhadap orang-orang yang kita anggap telah membuat diri kita kecewa, sedih, menimbulkan dendam dan kebencian. Kalau saja kita mengetahui bahwa melawan segala bentuk-bentuk ego janganlah dengan kekerasan. Tetapi dengan kelembutan dan cinta… inilah memaknai bahwa jihad terbesar adalah melawan diri sendiri… bahwa jihad terbesar adalah berdamai dengan diri kita sendiri… kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berubah sesuai keinginan kita tapi kita bisa mulai menanamkan pada diri kita bahwa perubahan haruslah dimulai dari diri sendiri. Teori sepertinya gampang. Tapi ini adalah langkah awal yang teramat sulit… berat rasanya, dan sepertinya gak mungkin dilakukan. Bagaimana bisa melihat ke dalam diri sendiri, bahkan melakukan pengakuan atas perlakuan-perlakuan yang kita anggap kita tidak pantas menerimanya tetapi justru kita alami? Perlakuan buruk orang lain pada kita justru akan membuat reaksi kemarahan dalam diri… ego akan membisikkan, dia yang salah kamu hanya korban.. jadilah reaksi kita menghadapinya adalah dengan bentuk-bentuk kemarahan yang setara, berbalas bersikap kasar, saling teriak atau kalau ini tidak bisa dilakukan maka akan menyimpan segala bentuk kebencian dan dendam.
Mungkin teorinya tahu…bahwa siapa menanam akan menuai… bahwa apa yang sudah kita lakukan justru akan kembali kita rasakan..
QS 17:7 Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…..
QS 37:39 Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan
Tetapi ketika suatu yang buruk terjadi pada diri kita, kita lupa teori ini. Kita tidak mau mengakui bahwa ini adalah atas apa yang sudah kita perbuat, kita lebih sering menyalahkan orang lain dan keadaan.
Sehrsnya ketika kita benar-benar memaknainya maka kita harus berani melihat ke dalam diri, belajar melakukan pengakuan… Ya Tuhan, semua keburukan ini adalah akibat apa yang sudah aku lakukan…. resapi dalam hati…. mohon perlindungan dan pertolonganNya… resapi, rasakan sampai hati terasa melembut…bahwa hati seakan memaafkan… tandanya adalah, jiwa kita merasa lebih ringan, bahkan ketika diri harus meminta maaf pun maka tidak ada keberatan, tidak ada ketakutan…
Kok ya sepertinya mudah…. atau mungkin bukan mudah, tetapi asing, aneh atau pendekatan yang tidak biasa…. saya bisa sampaikan, bahwa ini sama sekali tidak mudah. Apalagi jika kita ingin memulainya… berat sekali, logika kita akan mengatakan, gak mungkin… aneh… tapi cobalah… maka kita sedang melatih diri kita berdamai pada diri sendiri… mempersiapkan kelembutan hati… meruntuhkan ego… seorang guru pernah menyampaikan kepada saya bahwa melawan syeitan adalah bukan dengan kekerasan, jika ini dilakukan maka kita akan kalah… melawan syeitan adalah dengan mengukuhkan hati untuk melakukan kebaikan. Dimana ketika melakukan kebaikan, di situlah kita bersama Allah.
QS 16:128 Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan
Selain itu dalam Quran, Allah menetapkan diriNya kasih sayang dan akan menanamkan rasa kasih sayang ke hati orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, – artinya berusahalah betindak dan menyikapinya dengan segala bentuk kasih sayang….. memaafkan, penuh cinta, pengertian dan toleransi.. Dan ketika kita berhasil melewati semua bentuk pertanyaan yang timbul dari dalam diri kita ketika kita mau memulai melakukan, disitulah kita telah memberikan suatu arti bahwa kita sudah memulai langkah awal kita menundukkan nafsu dalam diri kita. Kesampingkan dan singkirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada ego.. dan kita harus mulai menyadari bahwa, karena ego masuk ke dalam diri kita dengan sangat halus dan selalu berusaha menanamkan alasan-alasan logis yang bisa diterima akal, maka kalahkan dengan cara berpikir bahwa semua kepedulian, semua perhatian, semua yang bersifat kasih sayang adalah tanpa syarat apapun, beralih dengan meningkatkan kesadaran diri bahwa sebagai mahklukNya maka tugas kita adalah memberikan ‘pelayanan’ dengan kasih sayang.
Ketika kita berusaha untuk memulai, lakukanlah, jadikan suatu kebiasaan baik. Kita bisa merasakan perubahan itu perlahan, selain tanda-tandanya hati menjadi lembut seperti disebutkan di atas, maka kita akan mengiringi langkah kita selanjutnya dengan tidak sungkan memulai meminta maaf kepada orang yang kita anggap telah bermasalah dengan kita… cobalah dilatih… dan rasakan hikmah-hikmah baik setelahnya… jiwa menjadi ringan, masalah seakan melayang… Dan kita sudah membuka satu langkah awal untuk menerima cahaya kebaikan yang akan menuntun diri kita selanjutNya untuk lebih dekat padaNya…. karena kita telah berusaha meruntuhkan ego dan tidak membiarkan ego kita terus bertahan serta mengendalikan kita.
Mohon dimaafkan jika ada yang tidak berkenan. Segala kebenaran hanya milik Allah dan segala kesalahan adalah dari diri sendiri.
Wass. Wr. Wb
Leave a comment