BaJak – BArang seJenAK

Asskm Wr Wb….

Salam kasih sayang…

BaJak – BArang seJenAK

Kok judulnya Bajak sih? Sempat terlintas pemikiran tersebut…yang jelas bukan bajak laut, walau singkatannya pun, bajak- barang sejenak juga bukan istilah yg biasa dan agak maksa, juga agak-agak bukan bahasa indonesia yang baku… Dari pengertian bajak (kata dasar dari membajak, adalah alat yg digunakan melakukan kegiatan sebelum menanam supaya tanah yang ditanam menjadi gembur, subur sehingga apa yang ditanam berhasil baik), ilustrasi yang dimaksudkan dalam share kali ini…, sebagaimana bajak sebagai alat, maka ambilah waktu, BArang seJenAK sebagai sarana untuk mengajak pikiran kita, refleksi hati, melihat ke dalam diri, merenung dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal baik sehingga membangun niat dan keinginan untuk merealisasikannya dalam bentuk-bentuk kebaikan budi pekerti… Salah satunya, barang sejenak membaca sharing kali ini mengenai keluhuran budi Baginda Rasul sebagai bahan perenungan…,

“Suatu ketika Al Hassan dan Al Hussein datang ke rumah Rasulullah. Lalu Rasul mengecup bibir Al Hassan dan mengecup leher Al Hussein. Al Hussein kemudian mengadu pada ibunya, Fatimah. Kemudian Fatimah bertanya pada ayahnya, Ya Rasul mengapa enggkau membuat Al Hussein bersedih dengan membedakannya dari Al Hassan? Rasul menjawab sambil menangis. Beliau berkata bahwa sesungguhnya ia mengecup Al Hassan pada bibirnya karena suatu saat Al Hassan akan syahid karena racun yang masuk melalui mulutnya. Dan Rasul mengecup leher Al Hussein karena nanti Hussein akan dipenggal lehernya hingga terpisah dari badannya”.

Sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui apa yang akan terjadi dihari nanti. Tetapi Rasul tidak serta merta memusuhi Abu Sofyan yang mana keturunannyalah yang menghabisi cucu-cucu kesayangan Rasul. Rasul memaafkan Siti Hindun, istri Abu Sofyan, yang telah memakan jantung Hamzah, paman pembela Rasul.

Ini menunjukan betapa Rasulullah adalah rahmatan lil alam. Ia menjadi rahmat bagi semua manusia. Bahkan Rasulullah tidak menebarkan kebencian pada orang-orang yang pernah menyakitinya padahal beliau tau bahwa orang-orang tersebut akan membunuh darah dan dagingnya di kemudian hari.”

Membacanya berulang kali, tetap menghadirkan rasa haru yang membuncah…, dan tak henti air mata mengaliri pipi, Sungguh luar biasa kekasih Allah, pemimpin sejati dan manusia sempurna yang memiliki ketinggian dan keluruhan akhlak…

Barang sejenak, renungkan kearifan dan keluhuran budi baginda rasul……. Resapi dalam hati dan pikiran kita…

Lalu lakukan refleksi hati dan pikiran, pantaskah kita, yang mengaku umatnya, saling membenci? Membiarkan kemarahan membelenggu diri kita? Ketika kemarahan menghampiri, yang salah satu akar permasalahannya krn kita merasa tak pantas, tak puas diperlakukan yg menurut kita “dizhalimi” atau “disemena2kan” atau merasa disakiti dan pada akhirnya membuat diri kecewa dan memupuk kebencian. Atau justru sebaliknya, dengan mudah mengumbar kemarahan karena merasa lebih tinggi secara derajat, lebih benar dan lebih2 lainnya…., ada kesombongan dalam diri (baca Suram, Selfish) sehingga merupakan hal yang biasa atau bahkan menganggap pantas bersikap menghujat, menghakimi, mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaan… Semua adalah pilihan sikap…, yang manakah pilihan sikap kita? Kembali kpd kisah Rasul di atas, walaupun disakiti, beliau mencontohkan bagaimana bersikap… Sebagai umatnya, sudahkah kita berusaha maksimal meneladani sikap beliau?

Tidak mudah memang menentukan pilihan sikap untuk berbuat hal-hal yang benar. Selalu membuat alasan bahwa pilihan sikap kitalah yang benar… Pantas kok aku membencinya dan ‘menebar’ hal-hal negatif tentang orang yang sudah menzhalimi, merendahkan, menyakiti dan berbuat semena-mena padaku… Aku adalah korban…

Wahai sahabat, janganlah kita merusak dan merugikan diri kita sendiri… Datanglah ke sahabat kita yang lain yang bisa menentramkan hati kita saat kita berkeluh kesah dengan luapan emosi, yang bisa mengingatkan kita dalam kebaikan… Bahwa sabar tidak berbatas… Bahwa sabar justru diuji ketika kita menghadapi situasi atau pun orang2 yang menurut kita telah menzhalimi dan berbuat semena2 pada kita… Atau ungkapkanlah perasaan hanya padaNya semata… Mohonlah kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang kita anggap berat untuk dilalui… Mohonlah perlindunganNya untuk diri kita sendiri supaya tidak melakukan hal-hal yang tidak disukaiNya dan mohon perlindunganNya juga agar segera dihindari dari orang dan situasi yang membuat diri merasa dizhalimi atau berlaku semena2 atau bahkan hati yang begitu haru biru karena tersakiti. Ketika memang diri ini merasa sangat tidak berdaya, Dialah sebaik-baik penolong dan pelindung. Ketika usaha ini sudah dilakukan, tetapi kok ya masih galau, coba lakukan usaha terbaik terlebih dahulu. Menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Turunkan ekspektasi, bertoleransi bahwa sikap seseorang atau situasi yang menurut kita semena2 pasti karena berharap bahwa kita harus mengikuti cara2nya bukan cara2 kita. Cobalah sesuaikan dengan mengalah. Ketika sudah melakukan usaha terbaik dengan bertoleransi, mengalah dan menyesuaikan sikap tetapi ternyata masih tidak sesuai harapan, lakukanlah bersedekah….. Ketika semua hal dalam bentuk-bentuk kebaikan sudah diusahakan dengan maksimal dengan cara yang benar sesuai tuntunanNya, Quran sebagai cahaya dan meneladani keluhuran budi baginda Rasul…, maka tetaplah istiqomah berbuat baik walau pun kepada orang yang telah menyakiti…dan tidak melakukan cara2 yang salah. Usaha maksimal disini adlh, bertoleransi, mengalah, berusaha mengikuti dan menyesuaikan perubahan. Cara2 yang salah yang harus dihindari adalah memperturutkan ego dalam hal memaksakan kehendaknya sendiri dan tidak mau menyesuaikan diri, mengumbar kebencian dan memprovokasi keadaan dalam menyulut kebencian sehingga suasana menjadi tidak kondusif dengan mengeluh dan mengumpat. Ketika sudah melakukan maksimal tetapi masih merasa galau, Pasrahkan dan tawakallah padaNya. Tetapi terkadang, cara2 yang harusnya tidak dilakukan, justru dilakukan karena merasa diri sudah tidak kuat menanggungnya sehingga kemarahan lah yang menyelimuti diri…. Ingatlah sahabat, bentuk-bentuk marah, hanya akan merugikan dan merusak diri sendiri… Energi kemarahan demikian besarnya sehingga kerusakannya pun cukup mengakibatkan hal-hal yang fatal untuk diri sendiri. Ingatlah hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan, hanya bisa berubah bentuk. Bayangkan betapa besar energi kemarahan yang kita eksperikan dalam bentuk2 negatif dan seberapa banyak yang terinfluence kemarahan kita akan berbalik ke diri kita sendiri….

Marah adalah salah satu yg juga bisa menahan kita naik kelas menjadi takwa…

Barang Sejenak, kosongkan pikiran kita, rendahkan diri kita di hadapan sang Maha Segalanya…. Kita tahu bahwa semua sifat buruk memang harus dihindari, tahu teorinya, belajar kemana2 untuk terus mengingatkan diri agar memiliki semangat tinggi untuk berlaku benar tetapi justru disaat menghadapi orang atau situasi yang mengharuskan kita berlatih dalam mempraktekkan teori2 ilmu yang sudah di dapat…, kita sering lupa… Kita sering melewatkan kesempatan emas untuk bisa naik ke tingkat berikutnya…….. , takwa… Janganlah membiarkan diri kita terbelenggu dengan kemarahan. Mohonlah ampunan padaNya, karena bisa jadi, tanpa kita sadari, respon kita dalam menghadapi hal-hal yang kita anggap telah merugikan, menyakiti kita, tidak sesui dengan tuntunanNya berdasarkan Quran dan meneladani Rasul.
QS : 4:174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).

Renungkan dan resapi permohon ampun kita padaNya dengn segala kerendahan hati.

Ketika semua hal diatas dilakukan, Insya Allah akan mendptkan ketenangan, kedamaian dan jlan keluar terbaik sesuai petunjukNya dan insya allah, naik kelas.., takwa… Dimana takwa selain di surat 3:133-136 (bersedekah, menahan marah, memaafkan, mohon ampun), dijelaskan pula :

3:16. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”

3:17. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Dari ayat diatas, untuk menjadi takwa, akan mengalami ujian, dan ujiannya bisa jadi merasa tersakiti, diperlakukan semena-mena, dizhalimi. Untuk itu, lakukanlah berdoa, tetap sabar, lakukan hal2 yang benar sesuai tuntunan Quran & meneladani sikap rasulullah, tetap dalam ketaatan dalam menjalankan kesabaran dan mohon ampun, sebagaimana dijelskan sharing di atas. Semua dilakukan bertahap, bukan hanya salah satunya.

Yuuukkk mulai BArang seJenAK, membaca Quran, untuk mengetahui kebenaran yang paling hakiki dan berusaha menjalankannya sehingga akan menjadi cahaya dan petunjuk bagi diri kita.

Yuuukkk mulai BArang seJenAK refleksi hati kita…. Memulai dengan niat yang kuat untuk meneladani Rasulullah… Membuktikan dalam tindakan nyata pengakuan kita sebagai umat baginda Rasul dan dengan bangga serta semangat Merealisasikannya dalam bentuk2 kerendahan hati bagaimana bersikap dengan melepas belenggu kemarahan dan kebencian. Serta melakukan kebaikan2 walaupun kepada orang yang telah menyakiti kita…

Buat yang masih galau, coba lihat film yang menyentuh ini…ada yg mengatakan, ketika lagi diliputi kekecewaan, lihatlah yg msh di bwh kita, jangan melihat ke atas.. Masih banyak yg tidak seberuntung kita… Krn sesungguhnya, apapun yg kita miliki adlh yg terbaik yg telah diberikanNya pada kita… Ujian yg sdng dihadapi adlh spy kita naik kelas dan dapat merasakan kebergantungan hanya padaNya saja…
https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=h0rNn8nEaKg

Mohon dimaafkan jika ada hal2 yg tidak berkenan.. Segala yg benar datangnya dari Allah dan yg salah adlh krn kesalahan penulis…

Wass. Wr. Wb…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *