KEJUTAN

“Cerita ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dll, maka hal ini tidaklah terkait dg siapapun”.

Sudah beberapa tahun berlalu akan tetapi rasanya baru kemarin…, kejadian itu kembali terbayang di ingatannya begitu Aini melihat sosok yang dulu sangat di kenalnya. Ups, Aini segera berlari kecil menghindar sebelum bayangannya pun tertangkap oleh sepasang mata yang dulu begitu dikaguminya, mata yang selalu menatapnya dengan penuh kasih.

Ah.. ah, Bara…, hmmmm, Aini melamun sejenak. Mengapa raut wajah Bara begitu berubah, ya? Terlihat lebih tua dari umurnya sekarang dengan kepala dihiasi sebagian besar rambut putih… Wajahnya juga terlihat kuyu. Bara terlihat sangat sibuk, atau mungkin lebih tepat dia seperti kerepotan. Sementara tangan kanannya mendorong keranjang belanjaan yang isinya tidak terlalu penuh, tangan kirinya menggendong seorang anak perempuan yang Aini perkirakan umurnya mungkin sekitar 4 tahun . Sementara di depannya ada seorang perempuan dengan menggandeng seorang anak perempuan yang lebih besar dan diikuti juga oleh seorang anak laki-laki dengan umur yang sepertinya tidak terpaut jauh dengan anak perempuan yang digandeng ibunya.  Anak  lelaki tersebut seperti merengek dan merajuk kepada Bara sementara si Ibu melenggang tenang…… Yah, itu pasti istri Bara, pikir Aini dengan mulai mengamati perempuan yang sepertinya umurnya pun tidak terpaut jauh dengan dirinya.

Sekali lagi, dirapatkannya badannya membelakangi rak-rak susu yang tersusun rapi, akan tetapi matanya terus mengikuti tubuh lelaki yang dulu teramat sangat berarti buatnya.  Lelaki yang dulu sangat dikagumi dan dicintainya. Hingga bayangan lelaki itu menghilang berbelok ke arah yang berlawanan dengannya.

Aini bergegas ke kasir dan meninggalkan supermarket dengan kenangan yang langsung menari-nari di pelupuk matanya.

 

Sesampainya di rumah pun, segera setelah dia menyiapkan makan malam untuk Adi, putra sulungnya yang sebentar lagi akan pulang dari les, pikiran Aini kembali melayang ke masa lalunya.

Siapa yang sangka setelah lama tidak ada kabar apa pun mengenai lelaki itu, hari ini dia dipertemukan kembali dan melihat Bara, lelaki yang pernah memasuki kehidupannya dan membuka kembali ingatan Aini akan lembaran masa lalunya…….

 

                                                            **********************

 

            “Aini,  maukah engkau menikah dan menjadi  calon ibu bagi anak-anakku?” Bara menatapnya dengan mata yang penuh harap.

            Sebagai seorang perempuan, memang hal inilah yang Aini tunggu selama ini, walaupun Aini tidak begitu lama mengenal Bara. Pertemuan mereka dimulai dari kegiatan taklim setiap Sabtu yang rutin diadakan oleh almamater kampusnya. Bara adalah mantan kakak kelasnya. Yah, 6 bulan terakhir ini, mereka cukup dekat dan sering terlibat diskusi yang cukup menarik dalam membedah kajian-kajian Al Quran. Bara juga sudah mengenal kedua orang tua Aini. Mereka tidak melalui tahap pacaran. Setahu Aini pun, Bara mencoba mencari tahu dan mengenal Aini lebih jauh dari kerabat bahkan kedua orangtuanya. Dan Aini pun juga mendapatkan informasi mengenai siapa Bara dari sahabat-sahabat Bara dan kerabatnya yang juga sudah mengenal Aini. Kedekatan mereka pun mulai terlihat intens karena adanya kegiatan bedah buku yang melibatkan pertemuan antara mereka berdua menjadi lebih sering.

            Aini hanya menggangguk saja menandakan bahwa dia setuju dengan pinangan Bara…..

            Yah, dari sinilah mereka memulai untuk membuka lembaran baru dalam suatu wadah perkawinan. Persiapan ke arah pernikahan tidak memakan waktu lama dan boleh dibilang lancar.

            Sampai akhirnya pernikahan yang indah itu pun terjadi. Betapa bahagianya keduanya.

            Di awal pernikahan mereka, Aini merasakan madu pernikahan yang tiada hentinya. Dia melaksanakan semua kewajibannya sebagai seorang istri yang melayani dan mencoba berbakti dengan berbuat sebaik mungkin kepada Bara. Ketika Bara memintanya untuk berhenti bekerja dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga, Aini dengan ihklas melakukannya.  Demikian juga Bara. Bara sangat mencintai Aini. Selama setahun, mereka tidak menemukan kendala yang berarti.

            Ketika memasuki tahun ke dua, Bara mulai merencanakan program untuk memiliki anak, karena sampai dengan saat ini tidak ada tanda-tanda kehamilan Aini.

            Semua program yang mungkin dilakukan sudah dijalani keduanya,  mulai dari rutin urut, minum obat tradional dan terakhir adalah dengan mengunjungi dokter ahli. Akan tetapi sampai dengan memasuki usia ke 4 tahun pernikahan mereka, tidak kunjung muncul tanda kehamilan tersebut.

            Aini mulai resah dan kadang kesedihan menyapanya.

            Tetapi Aini salut, karena Bara adalah suami yang sangat mengerti dan penyayang. Dia terlihat tegar. Dan setiap Bara melihatnya bersedih, kata-kata manis dan membesarkan jiwanya selalu keluar dari mulut Bara, ”Tenang saja wahai permataku…. Allah Rab yang Maha Tinggi belum memberikan kepercayaan tersebut kepada kita. Belum rejeki, dan kamu tidak usah bersedih hati ya….” Begitu selalu Bara meyakinkannya dan memberikan kesejukan kepada jiwanya yang teramat sangat merasakan kepedihan dalam menantikan sang buah hati yang tidak kunjung datang. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. Walau pun kadang perasaan bersalah yang teramat sangat dirasakan Aini karena belum bisa mempersembahkan keturunan kepada suami tercintanya, Bara…..

            Sampai akhirnya, hari yang sangat mengejutkan terjadi dan merubah segalanya…….

                                                            **********************

            ”Aini, aku akan pergi dulu satu minggu ini ke luar kota, karena ada sesuatu urusan mengenai kantor.” Bara menjelaskan kepergiannya minggu depan. Yah memang sudah 6 bulan belakangan ini Bara sangat sibuk sekali karena pembukaan kantor cabangnya yang baru. Dan dia diberikan kepercayaan untuk memenuhi keperluan standard kantor baru tersebut oleh atasannya, termasuk design interior dan penempatan  orang. Bara ingin menunjukkan kualifikasinya sebagai orang yang sudah mendapatkan kepercayaan untuk tidak mengecewakan atasan dan perusahaannya.

            ”Hmmm, apakah tidak kurang nih, baju yang dibawa? Kok sedikit sekali? Seminggu bukan waktu yang singkat lho, Mas,” diletakannya teh hangat yang dibawakan Aini untuk suaminya di dekat kaki suaminya yang masih sibuk mengatur pakaian dalam kopor.

            Aini juga mulai membantu memeriksa perlengkapan apa saja kira-kira yang masih harus dibawa. Ah, sepertinya tidak ada yang tertinggal, pikir Aini.

            ”Cukuplah, ma… hehehe kalau kurang sekalian beli baju baru saja di sana,” jawab Bara santai dan mulai menutup tasnya.

            Keberangkatan Bara tidak memberikan tanda-tanda khusus kepada Aini. Kepercayaan dalam hubungan yang sudah begitu lekat tidak memberikan kecurigaan apa pun. Bagi Aini, Bara adalah suami dan pria sempurna yang tidak memiliki cacat di matanya. Kelembutan, gaya bicara, dan semua apa yang ada di Bara selalu memberikan kenyamanan dan kesejukan yang membuat perasaan sayang Aini kepadanya dari hari ke hari selalu bertambah.

            Sudah 3 hari berjalan kepergian Bara, tidak memberikan arti apa pun. Aini sudah terbiasa dengan hal ini. Bahkan kadang kepergiannya bisa sampai 2 sampai tiga minggu. Selama kepergiannya pun, Bara tidak pernah lepas untuk menghubungi dan menghujaninya dengan kata-kata mesra yang penuh kejutan. Bahkan kadang seperti minum obat, 3 kali dalam sehari. Aini selalu tersenyum simpul mengingatnya.

            Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan sms masuk. ”Masak apakah hari ini my lovely wife? Mau masak apa pun, kalau kamu yang masak, pasti rasanya selangit dehhh..”. Ah, ah…. Bara memang paling bisa, pikir Aini gemas. Tapi kok hanya sms sih? Biasaya kan telpon……. Dibalasnya sms Bara, ”Masak seenak apa pun kalau tidak ditemani suami tercinta, rasanya kurang pas. Kok tumben sms?”. Diterimanya kembali balasan sms Bara ,”Hmmmm, lagi sibuk sayang. Nanti kalau sudah tidak sibuk, aku telpon ya…mmmmuuuuaaachhh…”. Aini tersenyum simpul membacanya, dan membalasnya hanya dengan satu kalimat ,” OK”.

            Lagi sibuk membereskan laci majalah, tiba-tiba klakson mobil berbunyi. Lho kok suara klakson mobil Bara? Aini berlari ke arah ruang tamu dan melihat dari jendela kalau ternyata benar mobil Bara dan sudah mulai memasuki rumah. Ah, ah, kejutan yang sangat menyenangkan…. Belum satu minggu ternyata suami tercintanya sudah kembali pulang. Dengan tidak sabar dibukanya pintu depan dan dihampirinya suaminya tersebut dengan merajuk manja, ”Hayo kok mau pulang tidak bilang-bilang?” Bara merangkulnya dengan lembut, ”Hahaha, Surpise dong,”

            Ah, kejutan yang menyenangkan di sore hari yang tampak cerah. Aini merasakan bau khas suaminya dan balas memeluknya. Bara, engkau memang suamiku yang manis. Kejutan manis pertama yang dirasakan Aini setelah kepulangan Bara.

            Mereka memasuki rumah dengan perasaan bahagia. Aini mulai sibuk menyiapkan dan menghangatkan makanan untuk Bara. Dia juga menanyakan apakah Bara ingin dipijitnya karena lelah sehabis menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan macet. Ah, ah… tidak ada yang berubah setelah hampir 5 tahun memasuki usia pernikahan.

            Tidak ada yang berubah. Kegenitan Bara kalau sehabis pulang dari luar kota tetap dirasakan Aini. Mereka melewati malam-malam romantis seperti biasanya.

            Pagi hari, Aini  bangun agak telat. Biasanya untuk menunaikan sholat subuh Aini selalu bangun sebelum terdengar adzan, hari ini badannya terasa agak lelah. Dirasakan Aini, kalau suaminya sudah terbangun. Sempat terlintas di kepalanya pertanyaan, kok Bara tidak membangunkannya untuk sholat berjamaah ya? Pertanyaan itu segera berlalu dan dengan bergegas, Aini mengambil handuk dan segera ke kamar mandi untuk mandi kemudian sholat subuh.

            Selesai sholat, Aini ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Bara. Hmmm, enak juga nih kalau aku buatkan roti bakar dengan teh hangat, tentunya Bara suka. Dibuatkannya dua pasang roti, satu untuknya dan satu untuk Bara.

Setelah meletakkan sarapan pagi di meja, Aini mulai mencari dimana sosok suaminya. Di kamar jelas sudah tidak ada sejak dia bangun. Ke ruang tamu dan ke ruang kerja Bara pun tidak ditemuinya suaminya tersebut. Ohhh, mungkin sedang olahraga jalan pagi, kebiasaan Bara yang mulai rajin dilakukannya sudah dua tahun terakhir ini.

            Bik Sum, pembantunya yang sangat setia dan sudah ikut dengan Aini dari awal masa pernikahannya dengan Bara, datang menghampiri Aini yang sedang asyik membaca koran. ”Maaf, Bu, saya menemukan surat ini di tempat tidur Ibu,” diberikannya surat tersebut kepada Aini.

            ”Dari siapa, Bik?” Diperhatikannya surat yang tertutup rapat dalam amplop, dan dibacanya tulisan yang amal dikenalnya pada lembaran amplop dimana tertulis, untuk istri tercintaku. Sambil mendengar jawaban Bik Sum yang mengatakan tidak tahu, Aini sudah mengetahui siapa penulis surat tersebut. Hmmmm, kejutan manis apalagi nih, pikir Aini dengan dihinggapi rasa penasaran yang sangat. Dia sudah tersenyum simpul sendiri membayangkan kejutan manis lain yang akan diterimanya. Kata-kata romantis? Atau…? Dibukanya surat tersebut untuk segera dibacanya, tentunya Bara menginginkan Aini membaca surat ini sebelum dia kembali dari olahraga paginya. Namanya juga surprise, pikir Aini dengan segera membuka lembaran surat dan mulai membacanya.

            Baris demi baris Aini membaca perlahan, kalimat di awal surat membuat Aini tersenyum atas pujian Bara akan tetapi begitu dia membaca kalimat berikutnya, dahinya mulai berkerut dan tangannya terasa gemetar. Tidak sanggup Aini meneruskan kalimat berikutnya yang sungguh membuat hatinya teriris. Siapa yang menyangka? Bara suaminya yang manis, yang amat dikagumi, disayangi dan dihormatinya? Sikap Bara yang teramat mencerminkan rasa cintanya yang besar…? Ya Allah, cobaan yang sangat berat sekali….. Air matanya tidak sanggup keluar. Hanya seluruh persendiannya terasa begitu rapuh. Ditariknya napas dalam-dalam sesering mungkin. Surat tersebut terlepas dari genggaman tangannya….. Benar-benar kejutan…..  Sejenak Aini terduduk hening. Diambilnya kembali satu lembar surat yang terjatuh di dekat kakinya. Dibacanya kembali kalimat demi kalimat. Benarkan ini kenyataan? Ataukah Bara ingin menguji kesabarannya? Kepalanya pusing, pandangan matanya mulai berbayang…. Ah, tapi kenapa air mata ini tidak bisa keluar? Seluruh perasaan dan pikirannya masih berharap ini hanyalah khayalan. Dicubitnya tangannya…. Tidak, aku tidak bermimpi, pikir Aini gamang….

Pandangan matanya beralih ke arah meja makan dimana diletakannya 2 pasang roti bakar dan teh manis panas yang akan dinikmatinya dengan Bara. Bayangan mesra berdua sedang menikmati sarapan bagi buyar sudah. Tidak hanya itu, seluruh hidupnya akan berubah total mulai saat ini. Bara suaminya, sudah terasa sangat jauh dan pergi meninggalkannya. Hancur sudah semua rasa bahagia, rasa nyaman, rasa terlindungi dengan perasaan yang sulit digambarkannya.

Aini masih duduk terdiam di bangku yang sama sejak dia membaca surat itu. Masih ditunggunya kehadiran Bara. Aini coba menepis bayangan bahwa semua ini hanyalah bualan Bara. Ya, Aini sangat yakin kalau Bara tidak punya maksud apa pun untuk menyakitinya. Aini duduk termenung. Dilihatnya jarum jam terus berjalan, satu jam, dua jam, hingga jam sepuluh tidak ada hal apa pun yang terjadi. Sosok Bara pun tidak muncul-muncul dihadapannya. Aini pindah duduk ke arah meja telpon. Segera dia mencoba menghubungi Bara. Terdengar di seberang sana, telpon tidak bisa dihubungi. Ditunggunya suara telpon berdering, Aini membangun harapan, mudah-mudahan Bara akan menghubunginya. Sampai terdengar adzan Dzuhur, tidak ada sesuatu pun kabar dari Bara. Aini bergegas bangkit untuk bersiap sholat.

Perasaan dan pikiran Aini hampa. Sepertinya separuh jiwanya hilang. Ah, Bara, apakah engkau setega itu? Dalam sholat, Aini pasrahkan semuanya. Selesai sholat, pecah isak tangisnya menghadap sang khalik….. Tidak ada doa yang dipanjatkan, hanya keinginan untuk menumpahkan perasaan sesak di dada kepada yang Maha segalanya. Mulutnya terus mengucapkan istighfar. Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang lemah ini….. Begitu Engkau ambil titipan- Mu mengapa hati ini terasa begitu menyakitkan? Mau cara apa pun suamiku engkau ambil, ya Allah, Bara hanyalah titipan yang sudah habis waktu ku untuk bersamanya, tidak henti-hentinya isakan Aini menumpahkan segala rasa dan asa kepadaNya. Aini coba menepis perasaannya yang tidak bisa menerima perpisahannya dengan Bara yang sangat tidak disangkanya. Berbagai pertanyaan seakan tidak ada habisnya dalam pikirannya. Apa arti kemesraan semalam? Apa arti perlakukan manis selama ini? Kemana Bara pergi? Apa salah Aini? Banyak lagi pertanyaan yang yang saling berlomba memenuhi ruang pikirannya……. Sangat begitu menyakitkan, karena Aini tidak bisa menemukan jawaban kenapa Bara meninggalkannya dengan tidak adanya tanda-tanda kebencian di antara mereka. Tidak pernah ada pertengkaran, tidak pernah ada kata-kata menyakitkan….. Ya, dalam akhir suratnya Bara menuliskan bahwa dia akan pergi dari sisi Aini dan minta Aini untuk tidak mencarinya. Tidak ada penjelasan apa pun, kecuali di awal suratnya Bara sempat melukiskan perasaan bahagia selama 4 tahun ini membina biduk rumah tangga bersamanya….. Tapi apa artinya kebahagiaan kalau akhirnya Bara meninggalkannya? Membuncah perasaan tak tentu yang membangkitkan kesedihan dan kemarahan yang tidak bisa ditemukan jawabannya. Ah, ah…. tidak ada sesuatu kata pun yang dapat menggambarkan perasaan Aini saat ini. Aini hanya dapat mencurahkan segalanya hanya kepada Allah, tempat dimana Aini merasakan ketenangan….. Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini, dalam derai air mata Aini bersimpuh dengan terus melafazkan istighfar dan mohon kekuatan-Nya…. Kejutan manis telah usai.

                                                *********

Dihapusnya butiran air mata yang terjatuh di pipinya begitu didengarnya ketukan dan salam dari arah luar, Adi anaknya telah pulang. Disambutnya anak pertamanya dengan senyuman hangat. Ah, ah, hari ini aku mendapatkan kejutan yang membuat aku mengingat kembali masa kelam kehidupan masa laluku, pikir Aini menepis kesedihan yang sempat menghampirinya. Ya, Allah, engkau tidak berhenti memberikan kejutan untukku, dimana aku banyak mendapatkan pendidikan yang berarti dari Mu. Dengan kejutan tadi, aku jadi merasakan rasa syukur yang amat sangat karena sekarang ini aku mendapatkan keluarga yang menyayangiku dan teramat kusayang. Yah, kalau melihat ke belakang betapa waktulah yang menyembuhkan luka yang tertoreh begitu dalam, akan tetapi dengan kepasrahannya sebagai hamba Allah yang lemah, semua dilewati Aini dengan istiqomah….. Sekarang ini, tidak lepas segala syukur karena Aini memiliki suami yang mengerti dan menyayanginya dan anak-anak yang sholeh dan sholehah…..Adi adalah anak sulungku dan Dewi adalah anak bungsuku yang saat ini lagi asyik bermain di kamarnya merupakan permata hati yang memberikan kesejukan. Dan juga Mas Dani merupakan sosok suami yang dapat menjadi imam keluarga…..Sosok Bara adalah sosok masa laluku. Yang aku dengar dari beberapa kerabat, Bara telah memiliki 3 orang anak dan kehidupan perkawinannya sebenarnya jauh dari apa yang Aini tahu mengenai harapan Bara tentang sebuah keluarga, yaitu istri yang melayani suami dan menemani anak-anak di rumah sementara suami adalah tulang punggung keluarga. Istrinya adalah wanita pekerja yang ulet yng harus membantu keuangan keluarga karena Bara tidak memiliki pekerjaan tetap semenjak perusahannya bangkrut.  Ah, ah, yang namanya hidup memang harus selalu siap dengan kejutan baik yang menyenangkan atau pun menyedihakan….,  semua sudah ada tulisannya di Lauh Mahfuz…..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *