Cinta Ke Dua
“Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama, tempat, dll, tidak ada keterkaitannya dengan siapapun”
Beno tersenyum simpul. Hatinya masih merasakan degup kecil yang membuat adrenalinnya sempat naik. Ah, perasaan ini sudah lama tidak dirasakannya. Diliriknya kembali perempuan muda yang saat ini berada tepat disampingnya, dengan berpura-pura menengok ke samping melihat rekannya di lift dimana dia sempat melemparkan senyum ringan dan kata “Hai” untuk rekannya tersebut. Paling tidak perempuan tersebut tidak menyadari bahwa dirinya secara tidak langsung sedang diamati, pikir Beno tenang.
Tidak salah, wajahnya mirip sekali dengan Lastri istrinya. Hanya bedanya, rambut perempuan ini tertata dengan apiknya dan mengikuti mode saat ini, cukup gaya , sedangkan Lastri, anggun dengan tatanan rapi jilbab yang menutupi keindahan rambutnya. Lho, kenapa dia mulai membandingkannya dengan Lastri? Ah, awal yang kurang baik nih, piker Beno mencoba mengalihkan pikirannya.
Akan tetapi rasa penasarannya masih mengganggunya. Karena masih ada sedikit ruang dalam lift tersebut tepat di belakang perempuan yang menarik perhatiannya, Beno mengambil langkah pindah agar lebih leluasa memperhatikan tanpa disadari oleh perempuan tersebut. Beno jadi punya waktu untuk memperhatikan lebih jauh lagi. Kesimpulannya sama. Benar-benar Lastri. Ya, mirip sekali dengan Lastrinya sewaktu masih muda dulu…. Ah, kembali ada getaran yang muncul di relung hatinya…….
Beno turun terlebih dahulu meninggalkan perempuan tersebut yang masih berada di dalam lift. Pikirannya tidak berhenti memikirkan perempuan itu. Setengah hatinya mulai merasakan sinyal-sinyal penasaran akan sosok yang menarik perhatiannya. Cantik, anggun, menarik, pikir Beno dengan terus membayangkan wajahnya. Ups, ”sadar Beno”, pikiran sadarnya mengajaknya untuk mengalihkan apa yang saat ini mulai dirasakannya, dia bukan Lastri dan kamu adalah seorang pria dewasa yang memiliki keluarga. Bukan hanya dewasa, tapi berumur….Ya, ya… Beno tidak boleh membiarkan rasa penasarannya berkembang.
Sehari dua hari karena kesibukan kantor membuat Beno tidak memikirkan perempuan yang menarik perhatiannya. Hari ke tiga, mereka bertemu kembali . Kali ini surprise, ternyata perempuan itu menghampiri ke tempat dia bekerja. Ohh, namanya Siska. Karena kemarin ini sekretarisnya minta waktu Beno untuk meeting dengan perempuan yang bernama Siska ini membicarakan project baru yang seharusnya sudah berjalan bulan lalu tapi terhenti karena unit yang harusnya bekerja sama dengan unit Beno, atasannya resign. Apa Siska yang menggantikan Bu Nur, ya? Pikir Beno. Kalau ya, masih muda sekali……
Bertemu Siska tepat di depan matanya, membuat jantung Beno sedikit berdegup. Beno, please jangan kelihatan kecanggungan dirimu, kata Beno dalam hati, ayo tunjukkan kewibawaanmu, jangan sampai Siska menangkap hal-hal di luar kewajaran, lanjut suara hatinya menenangkan.
”Hai, pak Beno,” sapa Siska ramah.
Hmmm, ramah, pikir Beno sambil menjawab sapaan tersebut. Perkenalan dimulai. Ternyata benar dugaan Beno, Siska adalah pengganti bu Nur. Ah, ah, ternyata lulusan luar. Gaya bahasanya lincah dan agak-agak dicampur. Menyennagkan dapat ngobrol panjang lebar dengan Siska.
************
Perkenalan dengan Siska membawa perubahan pada diri Beno. Aku sudah tidak muda lagi, tetapi bukan berarti pesonaku telah pudar, pikir Beno dengan tersenyum menatap dirinya sekali lagi di depan cermin. Ah, ah, kenapa jadi genit begini…? Sempat terselip pikiran malu pada dirinya sendiri. Ah, Beno, jangan membuat keluargamu merasa curiga dengan perubahanmu. Ya, Beno harus bisa bersikap biasa.
Sesampainya di kantor, hal pertama yang dilakukannya adalah menghubungi Siska, melakukan konfirmasi apakah makan siang ini mereka jadi pergi bersama. Dengan alasan pekerjaan, hal ini digunakan Beno agar bisa lebih dekat lagi dengan sosok perempuan yang telah menarik hatinya.
Tersenyum puas Beno mendengarkan jawaban di seberang yang mengatakan ya…. Suaranya renyah dan enak didengar tidak hanya saat bertemu langsung, akan tetapi melalui telepon juga sempat membuat dirinya bergetar.
Beno jadi ingat saat-saat mudanya dulu saat mengejar Lastri istrinya. Kalau mau jujur, ternyata Siska sangat mirip sekali dengan Lastri. Ah, kenapa juga dia harus membandingkannya lagi dengan istrinya itu? Apakah ini yang disebut orang sebagai puber kedua? Tidakkah usianya terlalu terlambat untuk merasakan hal itu? Tapi memang, pertemuannya dengan Siska membawa suatu perasaan yang berbeda. Perasaan yang membawanya merasakan muda lagi dan membawanya ke masa lalu. Masa dimana Beno merasakan perasaan-perasaan indah. Ah, ah… Beno, apakah hal ini wajar? Pertanyaan itu terus mengalir pada diri Beno? Perbedaan usianya dengan Siska pun cukup jauh. Mungkin kalau bisa dibilang, dari sisi usia, Siska lebih tepat jadi teman anaknya… hahaha, tapi dari segi penampilan dan wajah, Beno masih merasa dirinya awet muda karena banyak orang yang mengatakan kalau wajahnya baby face, awet muda dan kadang orang masih suka salah menebak berapa umurnya saat ini.
Makan siang berjalan lancar. Di awal pertemuan ini mereka hanya membicarakan masalah pekerjaan. Akan tetapi ternyata pertemuan ini membuka jalan ke pertemuan-pertemuan berikutnya…. Hmmm…..
****************
”Mas Beno masak lupa kalau besok kita ada undangan vendor terkait project kita, mas?” tanya Siska manja….
Beno tertawa dalam hati, hahahaha, ternyata si cantik ini pandai merajuk juga. Kedekatan mereka sudah berjalan dua bulan ini, dan Beno bisa menarik kesimpulan, selain cantik dan pintar ternyata perempuan yang mulai mencuri sebagian hatinya ini adalah perempuan yang tahu bagaimana bersikap manja terhadap lawan jenisnya. Hai Beno, hati-hati, karena sepertinya sikap Siska memang seperti itu, dia bersikap begitu bukan hanya pada dirimu tetapi juga pada semua kolega lelakinya…. Terkesan manja dan sedikit merayu. Ah…..
“O, ya?” tanya Beno dengan memasang mimik seakan memang dia tidak ingat sama sekali. Padahal dia sengaja untuk dapat menikmati rajukan Siska.
“Ya ampun mas, wong masih muda kok sudah lupa…,” lanjut Siska dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.
“Muda gimana? Wah, kamu nyindir saya,” Beno pura-pura marah.
“Ya masih mudalah, mas. Umur mas kan masih kepada empat to… Masih guanteng begitu… Sudah ah, Mas. Besok kita janjian pergi bareng ya. Tempatnya strategis lho, kita akan lunch meeting di tengah kota. Setelah selesai mas mau tidak temenin saya windows shopping? Kita jangan langsung kembali ke kantor, mas. ” Lanjut Siska lagi dengan pandangan mata berharap.
Ah, mana bisa aku menolak tatapan mata indah di depanku yang penuh harap aku akan jawab ”ya”…. Beno hanya mengangguk……..
Berbunga lagi perasaan Beno merasakan kedekatan dirinya dengan Siska. Walau pun Beno tahu, sikap Siska memang seperti itu bukan hanya kepada dirinya, tetapi Beno menikmati setiap detik waktunya bersama Siska. Rasanya Siska membawanya kembali ke masa-masa Beno merasakan perasaan yang namanya jatuh cinta. Dunia seakan berpihak padanya, penuh keceriaan. Membuatnya lupa bahwa dia adalah pria berkeluarga. Tidak ada yang salah, pikir Beno membela diri. Tidak ada hal yang membuat dirinya merasa bersalah. Perasaan ini hanya dirinya yang tahu, tidak seorang pun bahkan Siska pun mungkin tidak tahu. Kecuali perhatian-perhatian kecil yang dia berikan kepada Siska, mungkin Siska hanya akan merasa bahwa Beno adalah seorang dewasa yang secara profesional adalah rekan kerja seniornya yang memiliki rasa kebapakan dan perhatian lebih. Tidak lebih. Bukan seorang kekasih. Kembali Beno meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang dirasakannya. Tetapi bagaimana jika gayung bersambut? Beno tidak mau memikirkan ini sekarang. Saat ini yang ingin dirasakannya adalah perasaan bahagia jika sedang bersama Siska.
”Ok, mas. Besok Siska tidak bawa mobil, ya. Mas Beno bersedia anter Siska pulang?” tiba-tiba suara manja itu menyadarkan Beno.
“oh iya ya… Masak gadis secantik kamu saya biarkan pulang sendiri. Tenang saja, Siska, kamu aman di tangan saya,” jawab Beno sambil tersenyum merekah.
Mereka tertawa bersama, ”Ah, mas Beno nih bisa saja.”
Dunia seakan milik Beno.
Pembicaraan-pembicaraan ringan selalu menambah keceriaan hari-hari Beno. Ya, rutinitas makan siang semakin sering mereka nikmati bersama. Dalam satu minggu, bisa dua sampai 3 kali mereka menghabiskan jam makan siang bersama.
Saat lunch meeting selalu menambah kebahagiaan dan keceriaan bagi Beno. Suatu kali, selesai makan siang sekitar jam 3 an, mereka tidak langsung kembali ke kantor. Mereka menikmati windows shopping berduaan. Ya, rasanya sudah sangat lama Beno tidak merasakan kegiatan ini yang dulu biasa dilakukannya dengan Lastri. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya… Ah, bayangan Lastri sempat terlintas di pikiran Beno, maafkan saya Lastri, kalau saya menikmati acara hanya berdua dengan teman perempuan saya seperti ini. Ada terselip rasa bersalah yang amat sangat dari dasar hati Beno yang terdalam. Segera ditepiskan perasaan itu. Dialihkannya kembali seluruh perasaan dan perhatian Beno kepada perempuan yang saat ini juga sedang tertawa ceria. Perempuan cantik yang saat ini ada di sampingnya….. Diperhatikannya wajah Siska dengan seksama…. Cantik, muda dan bersemangat. Kecantikan dan keceriaan yang membawa Beno kembali menikmati letupan-letupan kecil dihatinya. Mengisi kehampaan relung-relung hatinya yang kosong. Dan Beno tidak menolak ketika spontan tangan Siska menggamitnya manja.
***********
Saat ini Siska merupakan satu alasan yang membuat Beno rajin dan bersemangat ke kantor. Kedekatannya dengan Siska membuat gairahnya kembali menyala. Ah, Siska. Engkau memang berbeda dengan Lastri. Semakin dekat Beno dengannnya, semakin Beno menyadari dan membandingkannnya dengan Lastri. Siska masih muda dan semangatnya masih terlihat dari setiap sikapnya yang kadang justru memperlihatkan ego dan emosinya. Ya, kadang Siska bisa begitu keras kepala. Bahkan terkadang sikapnya seperti anak kecil yang mudah berubah, merajuk, marah, kesal bahkan temperamental. Siska bahkan pernah tidak menegurnya jika dia merasa kesal pada Beno. Pernah dia merajuk manja agar Beno bisa menemaninya di hari Minggu hanya untuk acara santai reuni SMA Siska. Akan tetapi karena Beno juga harus bisa membagi waktunya dengan keluarganya, saat itu ditolaknya ajakan Siska, Siska mendiamkannya sampai satu minggu. Walau pun usaha Beno untuk mencairkan hati Siska cukup intens. Setiap hari dikiriminya Siska bunga permohonan maaf. Ah ah…. Tapi Beno tidak terlalu memikirkan hal itu. Apakah cinta telah membuatnya buta? Sampai suatu hari……
**********
Beno terduduk lemas, ditatapnya mata Lisa yang seperti menghakiminya. ”Apakah papa tidak menyadari berapa umur papa sekarang?” Lisa memberikan pertanyaan yang menusuk hatinya.
”Tidak papa sadari? Memang papa belum memasuki usia 50 tahun, pap. Tetapi rasanya papa tidak pantas berlaku seperti itu di tempat umum. Seperti anak SMA yang lagi kasmaran. Begitu asyiknya papa dengan perempuan itu sehingga tidak menyadari keadaan sekitar. Bahkan papa pun tidak tahu kalau aku sudah memperhatikan papa sejak papa masuk ke mall.” Kembali Lisa memojokkannya. Beno hanya terdiam, tidak ada keinginan sama sekali untuk mengeluarkan sepatah kata pun kepada Lisa, anak perempuan semata wayangnya buah kasihnya dengan Lastri.
Lisa mengambil posisi tepat di hadapannya. Wajahnya yang keras terlihat melunak. Terlihat usahanya untuk mengendurkan sikapnya yang tegang.
“Ah papa, siapa dia, pa? Rekan sekantor? Jangan katakan bahwa dia hanya rekan biasa, pa. Lisa tahu papa. Pasti ada yang special, ya kan pa?” Mata Lisa menatapnya dengan sorot menyudutkan dan menusuk hatinya. Maafkan papa, sayang. Beno benar-benar tidak berkutik. Dibiarkannya Lisa bicara panjang lebar. Sampai terakhir, ditinggalkannya Lisa yang terlihat masih ingin membicarakan sesuatu kepadanya.
Ditinggalkannya Lisa dengan berjalan gontai ke ruang kerjanya. Ditutupnya rapat pintu tersebut. Tidak diindahkannya panggilan Lisa. Beno berjalan lunglai.
Ruangan 3 x 3 m ini tidaklah besar. Di ruangan inilah tempat Beno selalu melarikan diri menyendiri baik hanya untuk menenangkan diri atau pun mengerjakan pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya. Beno menatap lukisan yang terpampang jelas di ruang kerjanya. Lukisan ini adalah center dari semua benda yang ada di dalamnya. Lukisan Lastri. Beno ingat, saat membuat lukisan ini adalah ketika mereka pergi ke bali hanya berdua. Anak-anak ditinggalkan di rumah, sementara mereka merasakan honeymoon yang kesekian kalinya. Indahnya saat itu. Dipandanginya wajah istrinya dalam lukisan, walaupun terlihat kerutan akan tetapi tetap menggambarkan kecantikan Lastri. Ah, Lastri, betapa aku sangat merindukanmu…..
Ditariknya napas dalam-dalam. Pikiran Beno tidak lepas dari bayangan Lastri. Ketika dia bertemu Siska, dirasakannya seakan Lastrilah yang dihadapinya. Cintakah dia pada Siska? Inikah namanya cinta kedua? Ataukah hanya rasa obsesi dan keinginan untuk kembali menikmati kebersamaan ‘yang hilang’ dengan diiringi bayang-bayang Lastri?
Diingatnya semua hari-hari yang dihabiskannya bersama Lastri. Ya, Lastri sangat berbeda. Dia adalah wanita anggun dengan kematangan emosi yang menenangkan Beno. Beno melayangkan pandangannya pada lukisan itu, ditatapnya dengan sepenuh hatinya. Salahkah kelakuannya? Beno terdiam, menunduk dan merenung. Beberapa saat ini memang hari-harinya bagaikan patung berjalan. Tidak ada keceriaan. Sempat dirasakannya dunia seakan tidak bersahabat kepadanya. Baik Lisa maupun Arief, kedua anaknya pun tidak bisa menghibur dirinya yang merasa terpuruk. Ya, kecintaannya pada Lastri sangat besar. Kadang Beno merasa semua yang dilakukannya dan dapat menjadi seperti sekarang ini adalah karena Lastri, istrinya yang sangat mendukungnya. Beno selalu merasa nyaman dengan istrinya. Akan tetapi ada saat-saat Lastri menunjukkan sikap yang berbeda, dimana menunjukkan kegairahannya sebagai pasangan jiwanya. Ah, Lastri, sesuatu memasuki relung-relung hati dan jiwanya. Semua kegiatan mereka lakukan berdua atau bahkan beramai-ramai sekeluarga. Hari Sabtu, biasanya adalah hari mereka berdua. Dimulai jalan pagi bareng, pengajian rutin sampai menikmati masa-masa pacaran kembali karena anak-anak juga memiliki kesibukan masing-masing. Hari minggu adalah hari keluarga. Ah, Beno merindukan semua hal yang dilaluinya bersama Lastri.
Sejak Lastri pergi, otomatis Beno kehilangan saat-saat berdua dan bersama keluarga. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain golf atau pun membaca. Bahkan untuk meluangkan waktu dengan kedua anaknya pun sangat jarang dilkukannya.
Betapa Beno sangat kehilangan semua hal yang membuat dunianya cerah semenjak Lastri meninggalkannya. 3 tahun sudah….. Sampai Siska menyadarkannya sesuatu…… Ya, Beno masih memiliki Lisa dan Arief. Direnunginya kata-kata Lisa, ”Rasanya teman papa cocok sebagai kakak aku pap. Tapi kalau memang papa merasa perempuan itu pantas menggantikan posisi mama, aku rela, pap. Tetapi papa harus memikirkannya matang-matang. Seharusnya mungkin, kalau papa sudah bisa menghilangkan kesedihan dan bisa menjadi sosok papa kembali buat kami, mungkin mudah bagi Lisa untuk menerima orang lain dalam keluarga ini. Tapi tidak saat ini, pap. Baik aku mau pun Arief merasa bahwa papa masih lari dari kesedihan setelah mama gak ada…,” Ah Lisa, diumurnya yang masih belum terlalu dewasa, bisa mengatakan hal yang begitu menyentuh hati Beno. Beno termenung, berkali-kali kata-kata Lisa terngiang terus.
”Lisa mengerti kalau papa mungkin membutuhkan pendamping, akan tetapi rasanya bukan dengan perempuan itu…. Tidak bisakah papa mencari sosok perempuan yang usianya tidak berbeda jauh dengan papa. Arief masih SMP, pap, mungkin dengan adanya sosok ibu buat dia, dia juga akan lebih mudah menerimanya. Dan aku juga masih SMA, rasanya aneh jika aku bayangkan papa dengan perempuan itu,” Lisa menekankan kata perempuan itu dengan ketus.
Ah, ah, haruskah Beno kembali menoreh kepedihan di hati kedua permata hatinya yang selama tiga tahun ini juga merasakan kehilangan orang yang sama-sama mereka kasihi? Haruskah Beno hanya mementingkan egonya sendiri? Benarkan cinta keduanya harus diperjuangkannya agar mendapat tempat di hati kedua anaknya? Beno mulai ragu. Semua bayangan sikap Siska dan Lastri menari-nari di pikirannya. 2 wanita yang hampir serupa tetapi tak sama. Siska yang terlihat lebih labil dan emosional akan tetapi smart dan enerjik, sementara Lastri lebih dari hal-hal positif yang ada di diri Siska. Apakah Siska memang cinta keduanya? Beno coba meyakinkan dirinya bahwa memang Siska adalah orang yang tepat sebagai penganti Lastri. Tetapi sisi lain dalam dirinya mengatakan bukan. Ah, ah…… Beno ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Dia ingin mencurahkan seluruh pikirannya kepada yang Maha Kuasa.
Dalam sholatnya Beno menangis. Tangisan penyesalan karena saat ini justru Beno begitu menyadari bahwa dirinya masih dikelilingi oleh orang-orang yang masih sangat menyayangi dan membutuhkannya. Cinta keduanya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan kedua anaknya. Ya, Beno selalu ingat bagaimana dulu dia dan lastri berkomitmen, bahwa jika mereka sampai berpisah, maka benar-benar harus mereka pertimbangkan mengenai calon pengganti masing-masing haruslah orang yang justru dapat membawa kebaikan agar mereka bisa menjadi lebih dekat kepada-Nya. Karena tidak ada yang lebih indah jika suatu hubungan tidak hanya dimulai dari rasa cinta yang menggebu kecuali hanya karena Allah. Semakin terbuka pikiran Beno untuk mengambil langkah apa yang harus dilakukannya. Dirinya dan Siska adalah dua hal yang berbeda. Ya, Benolah yang selalu harus mengingatkan Siska untuk tidak pernah meninggalkan sholat. Memang saat itu dia merasa dia harus menjadi imam bagi Siska. Bahkan dunia hura-hura masih melekat pada Siska yang mana sudah bukan masanya lagi pada Beno untuk menikmati hal-hal tersebut. Bukan hal itu yang sebenarnya diinginkannya. Dia ingin seorang partner seperti dengan Lastri. Siska bukanlah Lastri. Betapa bersyukurnya Beno diberikan kesempatan untuk menyadari bahwa betapa dia sudah sempat kehilangan hal-hal yang seharusnya masih bisa dinikmatinya setelah kepergian Lastri. Rutinitas mingguan yang selama ini ditinggalkannya, bisa dilakukannya kembali. Ya, tidak ada yang lebih indah daripada menyadari sesuatu yang telah hilang. Ya, Beno akan memulainya kembali… Memulai untuk kembali memperhatikan dan membangun kembali hubungannya dengan kedua buah hatinya dan memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk berbahagia dengan menjadi ayah yang baik bagi kedua belahan jiwanya yang juga sangat membutuhkan dirinya. Cinta keduanya bisa menunggu sampai saat yang tepat…..
Leave a comment