Renungan diri

Salam kasih sayang

Ketika seorang sahabat saya bercerita bhw betapa berat apa yg dirasakannya, saya hny terdiam, menyimak setiap perkataannya yg diiringi tetesan air mata, mata saya pun berkaca-kaca… Prilaku pasangannya yg tdk sesuai harapan dan seseorang lain yg menawarkan membawa secercah bahagia…. Tdk ada satu katapun yg terucap dr mulut saya… Saya mencoba mengerti dg setiap kata yg terucap… Mungkin tdk sepenuhnya mengerti, krn yg paling tau situasinya dan merasakan penderitaannya hanyalah dia seorang… Tdklah mudah ketika rasa sdh berpaling. Dan mnrt saya sndiri pun, tdklah berhak seseorang menilai atau menghakimi orang lain, siapa yg salah siapa yg benar. Tidak jg saya. Sahabat saya sendiri pun sebenarnya tahu kebenaran yg bisa dijadikan acuan adlh norma2 kaedah yg terdpt dlm panduan Ilahi sang Penguasa Semesta, krn kita pun lg sama2 sdng belajar….

Sy jd teringat sahut menyahut di grup wa dg para sahabat saya ketika kita saling mengingatkan utk tdk saling menilai keburukan atau kekurangan orang lain. Sederhana sebenarnya, membicarakan seorang teman yg tdk konsisten berhijab, kadang pakai kadang dibuka dan beredar foto2nya tanpa hijab, yg akhirnya kita saling mengingatkan utk tdk menilai tmn kita tsb dan lbh mengutamakan instropeksi ke diri sendiri…Kebenaran yg hakiki adl milik Allah, yg bisa kita temukan kalamNya pd kitabNya…, bukan dipergunakan utk menilai dan berhak menghakimi siapa pun kecuali sbgi parameter diri kita sendiri. Sudahkah kita demikian sempurna shg berhak menilai kekurangan orang lain? Yuukk refleksi hati kita. Msh bnyk hal yg hrs diperbaiki di diri sendiri.. Kalopun ada hal yg kurang sesuai, tugas kita adlh saling mengingatkan dlm kebenaran, bukan menilai dg membicarakan kekurangan orang atau pun keburukannya.

Siapa yg bisa menolak scenario yg mungkin tanpa kita sadari sdng menghampiri kita.. Scenario yg tdk pernah kita pikirkan seblmnya….

Pernahkah mengalami berbuat baik ttp diterima atau dianggap tdk sesuai thd orang yg kita anggap kita telah berbuat baik pdnya? Bnyk hal terjd kadang tdk sesuai dg harapan. Misal kita merasa telah memberi pertolongan ttp ternyata dianggap telah menghina… Atau crt lain, saya teringat cerita seorang sahabat mengenai seorang tmnnya yg dikhianati suaminya, dmn suaminya menikah atau lbh tepatnya terpikat perempuan lain, meninggalkannya utk menikahi perempuan tsb yg jg adalah tmn satu kerja suaminya yg kenal dekat dgnya… Ttp tahukah apa yg terjd? Dia bisa memaafkan bahkan menjadi teman curhat dr wanita yg telah merebut suaminya bahkan bersahabat pula dg mantan suaminya yg jelas2 sdh menorehkan luka dihatinya. Saya merenung ke dlm diri, bnyk pertanyaan yg terlintas saat itu… Apakah sang suami pernah terpikir seblmnya bhw saat itu dia sdng mendptkan peran sbgi seorang yg selingkuh? Pernahkah terpikir bhw hatinya bisa berpaling pdhal pernikahannya cukup sempurna dg dikaruniai dua orang anak? Atau sang istri, betapa luar biasanya ketika Hati memberikan Maaf dan membawanya berperan sbgimana yg memang sehrsnya dilakukan, berapa lama waktu yg dibutuhkannya dlm menata hatinya utk memaafkan? Atau wanita lain tsb, kenapa dia mau menerima cinta dr suami orang lain, bahkan menerimanya mnjd suaminya? Pertanyaan2 yg tdk akan bisa dijawab jika menggunakan logika… Yg ada penghakiman bahkan penilaian terhdp si suami, si istri ataupun si wanita tsb. Ttp hati akan bisa menemukan jwban yg berbeda ketika diri ini sadar bhw apalah artinya hidup di dunia, manusia adlh begitu lemah dan selalu berbuat kesalahan, tinggal bagaimana sikap kita menghadapi peran kita atas scenario yg menghampiri kita,dg selalu menggunakan panduan yg benar utk menyikapinya.

Sahabat, begitu bnyk hal yg terjd di depan mata kita… Saya tdk bermaksud utk menilai seseorang, saya hny mengajak dan menegur diri utk instropeksi.. Memulai refleksi hati pd diri sendiri.. Yuuk mulai refleksi hati, lihatlah ke diri sendiri.. Sanggupkah kita melihat kesalahan atau pun keburukan/kekurangan diri kita? Ketika kita sebagai orang yg menjalankan peran utk menerima kekurangan orang lain, sanggupkah berperan seprti seorang istri yg saya ceritakan di atas? Seorang Nabi pun pernah tergelincir kesalahan… Nabi Adam, Yusuf, Yunus… Apalagi kita yg hny manusia biasa. Krn manusia tidaklah pernah lepas dr berbuat kesalahan… Ketika itu terjd kita sehrsnya bukan menghakimi, ttp memaafkan. Atau sebaliknya ketika kita menemukan bhw diri ini berbuat kesalahan, mohonlah ampun pdNya. Mohon petunjukNya dan mohon perlindunganNya… Ingat lg QS 3:133-136. Yuukk perbaiki diri kita sendiri dulu, yuukk instropeksi… Mulailah dr prilaku2 yg paling sederhana ke orang2 terdekat kita. Lembut bersikap dan memaafkan. Utk yg sdh punya anak, misal, Anda marah dg bersuara keras dan menghakimi anak Anda krn menemukannya merokok, bagaimana tanggapannya? Pasti balik melawan Anda. Cobalah Anda melihat dan memperlakukannya dg cara yg berbeda. Ubah cara pandang Anda, bhw mungkin saat ini, anak Anda sdng menerima scenario utk mencoba merokok dlm hidupnya, tp Anda berstrategy. Cari waktu yg tepat, ajak berdialog. Ungkapkan dg kelembutan dan berbicara halus, tdk berteriak dan tdk kasar. Jelaskan yg bs diterima logika anak Anda apa akibat merokok, tekankan bhw Anda menyayanginya. Rasakan perbedaan sikapnya….tidak hny pd anak. Tp mulailah menyadari utk bersikap dan menyikapi dg benar di setiap peran kita.. Sbgi pasangan, sbgi anak, sbgi sahabat, sbgi teman, sebagai pekerja dan peran2 kita lainnya. Tugas kita bukan menilai kekurangan dan menghakimi ( krn dg bersuara keras, bentakan, kemarahan, menggambarkan cara pikir kita bhw kita yg benar yg lain salah ) bahkan sampai membenci atau dendam. Ubahlah juga cara pikir kita, bhw kita bukanlah korban dr situasi atau orang atas perbuatannya, ttpi kita adlh pelaku perubahan dlm bersikap sesuai tuntunanNya. Tugas kita menyampaikan kebenaran dg kelembutan prilaku, krn yg paling tahu kesalahan kita hnylah Sang Creator, Sang Maha Pencipta … Betapa indah scenarioNya… Memang tidak mudah tp patut dicoba. Yuukk refleksi hati dimulai dr diri sendiri…

16:125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Renungan diri…. Semoga bermanfaat…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *