PERBEDAAN
“Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama, tempat, dll, tidak ada keterkaitannya dengan siapapun”
Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, karena itu, menyikapi seorang wanita tidaklah boleh terlalu keras, seperti halnya tulang yang bengkok, maka akan mudah patah, akan tetapi kalau terlalu lembut, tetap bengkok juga, dan tidak akan pernah lurus. Berarti memang menyikapi seorang wanita, seharusnya lebih memakai pendekatan, sangat unik dan tentunya ada seninya. Hhhmmmm, Ana tersenyum memikirkan pernyataan tersebut yang bermain-main di benaknya…. Sementara saat ini, apa yang dirasakan Ana adalah sebaliknya… bingung bagaimana menyikapi suaminya yang sangat sensitive dan pendendam… Kalau seperti ini, Ana tidak tahu lagi, yang mana yang bengkok dan perlu diluruskan… Dirinyakah? Karena dia hanya seorang yang disebut “Wanita”, sementara, apakah lelaki memang selalu benar? Ah ah, kalau saja suaminya sesuai dengan harapannya menjadi imam keluarga dalam arti yang sesungguhnya, tentunya dia tidak akan menghadapi persoalan yang membuatnya bingung harus berbuat apa…. Ya, Ana berharap, suaminya bisa lebih bijaksana memandang persoalan ini dari setiap sudut yang berbeda dan bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Antara suami dan kakak lelaki tersayangnya, Mas Andi adalah satu-satunya lelaki dalam keluarga diantara 5 bersaudara… Seorang kakak yang diharapkannya juga menggantikan peran seorang ayah. Yah mereka bersaudara telah menjadi yatim piatu sejak Ana duduk di SMP. Setelah mas Andi, kakak lelaki nomor satu, Ana adalah anak perempuan tertua. Mereka berlima cukup kompak, tetapi dengan adanya kejadian ini, Ana sendiri pun tidak menyangka sama sekali, kakak yang selama ini tempatnya mengadu, kok ya tega melakukan hal yang membuat hubungan mereka saat ini menjadi renggang.
Mengikuti sunah Rasul, suami adalah imam yang akan diikuti kemana pun… Itu pasti, tetapi menjaga tali silaturahmi juga adalah hal yang mulia…. Dua lelaki dengan egonya masing-masing, sementara dirinya berada di tengah mereka.
“Coba dong, kamu usahakan bagaimana caranya agar kakak kamu itu cukup jantan untuk menemui saya. Jelaskan duduk persoalannya, jangan tiba-tiba menghindar tidak tentu rimbanya seperti ini,” begitu selalu mas Handoko mengingatkan Ana untuk terus menghubungi mas Andi. Kali ini, nada suaranya lebih keras dari biasanya. Kuping Ana panas mendengarnya, betapa mas Handoko tidak mengerti bahwa persoalan ini pun membuat Ana gusar akan sikap kakaknya. “Kalau perlu, kita ke rumahnya atau janjian dimana dia mau bertemu, silahkan pilih restoran yang membuatnya nyaman,” mas Handoko meneruskan perkataannya tetap dengan nada yang sama.
Ana lebih baik mengambil sikap diam. Karena kalau dia menimpali perkataan mas Handoko yang masih terlihat sangat emosi, tentunya suasana akan bertambah tidak nyaman. Dia hanya menjawab perlahan, ”Ya, mas, saya selalu usahakan.” Ditinggalkannya mas Handoko sendirian di taman belakang sambil ditemani segelas kopi hangat, sementara, Ana pikir lebih baik dia masuk ke dalam kamar dan menonton acara Sabtu sore di kamar. Ah, kalau saja mas Handoko tahu, bagaimana perasaannya setiap mendengarkan ocehannya yang selalu menyinggung masalah ini? Betapa kalau saja dia punya sayap, akan dihampirinya mas Andi untuk dimintanya bertanggungjawab menjelaskan semua duduk permasalahannya. Ana tahu, betapa mas Handoko sangat marah, kecewa, gusar, semua bercampur jadi satu. Dimana sebenarnya Ana pun sempat sangat marah atas apa yang telah mas Andi lakukan kepada suaminya. Ya, Ana pun marah dan kecewa. Tetapi lalu apa yang terjadi? Apakah keadaan jadi lebih baik dengan marah? Ana berharap bahwa kemarahan itu, jangan terus disimpan dan dipelihara. Dengan memupuk keikhlasan, tentunya mas Handoko tidak seharusnya terus menyimpan kemarahan itu. Dia harus berlatih sabar. Tetapi mas Handoko adalah mas Handoko. Cara dia menghadapi orang yang menurutnya telah menyakitinya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ana. Mas Handoko akan terus menyimpannya, sampai orang tersebut meminta maafnya. Sementara Ana? Ana lebih mudah memaafkan bahkan kepada orang yang menyakitinya sekalipun yang tidak pernah terucap kata maaf kepadanya.
Awalnya, Ana ingat sekali, bagaimana sampai hal ini terjadi………
*************************
“Mas, tadi mas Andi telpon, katanya butuh pinjaman untuk bayar masuk sekolah Dio,” Ana memberitahukan ke mas Handoko mengenai permasalahan Dio, anak kedua mas Andi yang membutuhkan biaya masuk sekolah. Ana tahu, mas Handoko orangnya sangat royal untuk hal-hal yang berhubungan dengan menolong keluarga. Apalagi dia sangat dekat dengan mas Andi. Yah, mereka sekeluarga kadang-kadang menghabiskan Sabtu bersama dengan bermain bowling.
“Ya dikasih saja, An. Kita kan amsih ada tabungan kan? Berapa yang dibutuhkan? Sudah berikan saja, rejeki gampang dicari,” benar saja, dengan gampangnya mas Handoko memberikan ijin.
”Barusan juga mas Andi mau ketemu mas tuh. Katanya sudah ada progres mengenai pekerjaan kemarin yang ditawarkan mas Andi, mas.” Ana menjelaskan lebih lanjut.
”O, ya? Bagaimana? Mas Andi sudah berhasil mendapatkan berita terbaru?” mas Handoko sangat antusias untuk mengetahui berita yang memang ditunggu-tunggunya.
Ya, saat ini, tempat mas Handoko bekerja memang sedang menghadapi masa pailit. Mereka menawarkan Golden Shake Hand, untuk para pekerjanya. Mas Handoko berniat mengambil tawaran tersebut. Tetapi dia tidak mau gegabah. Dia harus mencari penggantinya terlebih dahulu sebelum benar-benar efektif tidak bekerja. Ketika mas Handoko pernah ceritakan permasalahan ini kepada mas Andi, ternyata mas Andi berkeinginan membantu untuk memberikan referensi kepada temannya yang memiliki salah satu perusahaan percetakan terbesar di Indonesia. Gayung bersambut, situasinya sangat pas sekali. Hal ini pun, membuat Ana membangun harapan bahwa suaminya tidak akan kehilangan pekerjaan. Apalagi, mas Andi menjanjikan bahwa mas Handoko akan mendapatkan posisi yang cukup lumayan paling tidak sama dengan posisinya saat ini, sebagai Manager General Affair. Dari awal, mas Andi membantu semua proses yang dibutuhkan. Mengirimkan lamaran langsung kepada Pak Iman, teman mas Andi yang memiliki perusahaan tersebut sampai menjual kemampuan mas Handoko agar bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut.
Dan memang berita terakhir yang mereka dengar saat ini dari mas Andi yang cukup menggembirakan adalah, pak Iman sudah menguasakan semua hal kepada General Manager Human Resourcenya yaitu pak Yanto untuk segera membantu proses perekrutan mas Handoko agar mas Handoko bisa segera bekerja, paling tidak satu atau dua minggu setelah mas Handoko sudah resign dari kantor lamanya. Siapa yang tidak antusias mendengar berita ini?
Sore harinya, mas Andi main ke rumah bersama Dio dan Alya kedua anaknya.
”Han, pak Yanto mengajak bertemu terlebih dahulu tuh untuk finalisasi semua benefit dan kamu nego saja sama beliau berapa gaji yang kamu inginkan. Aku sih sudah katakan ke beliau gaji kamu sekarang, pastinya dapat lebih lah, yah naik 50% dari sekarang, ok kan, Han?” sambil tiduran di ruang keluarga, mas Andi membicarakan mengenai informasi terakhir yang diterimanya.
” Wah, bagus banget mas penawarannya. Kira-kira kapan pertemuannya? Saya sih belum mengajukan proses resignnya, mas. Tunggu kepastian proses di sana dulu, setelah itu saya akan ajukan. Paling tidak itu pun membuat saya punya bargaining power bukan?” mas Handoko menimpali.
”Baguslah kalau begitu. Tapi kamu wes tenang saja. Kamu siapkan saja pas photonya sekalian. Itu lho untuk persiapan kartu anggota perusahaan.” mas Andi terlihat sangat meyakinkan mas Handoko. ”Juga siapkan photocopy NPWP kamu lho, Han,” lanjut mas Andi lagi.
”Wah, sepertinya prosesnya mudah sekali ya, mas. Thank you ya mas Andi, sudah mau bantu kami,” Ana menimpali dengan tidak menyembunyikan kegembiraan karena bantuan mas Andi yang sangat berharga untuk keluarganya.
Sebenarnya, dalam hati Ana yang terdalam, sempat terbersit, kok begitu mudahnya proses untuk menerima seorang Manager di perusahaan yang cukup besar? Belum bertemu dengan perwakilan perusahaan tersebut, tapi sudah mendapatkan kepastian baik mengenai berapa besarnya gaji, sudah diminta photocopy NPWP bahkan sudah diminta pasphoto…. Ah, ah, sangat mudah sekali, hebat juga relasi mas Andi. Pikir Ana, mengusir semua keraguan atas pertanyaan-pertanyaan hati kecilnya.
”Han, ini nomor telepon Pak Yanto. Kamu diminta bertemu beliau Rabu minggu depan, ya. Kamu hubungi saja beliau untuk kepastiannya.” mas Andi memberikan nomor HP pak yanto.
Wah, tidak lama lagi, maka mas Handoko akan mendapatkan pekerjaan lain seperti yang diharapkannya. ”Thank you sekali lagi lho mas Andi,” mas Handoko terlihat senang dan suka cita.
Ah, ah, tinggal selangkah lagi. Hari Rabu sudah di depan mata. Artinya keputusan untuk segera mengajukan resign juga sudah bisa dilakukan.
Mas Handoko segera melakukan apa yang harus dilakukannya. Pengajuan resign tidak sulit untuk dilalui. Kantornya cukup mengerti dan mengijinkan mas Handoko untuk berkarir di tempat lain dan tentunya mereka juga sangat menghagai apa yang sudah dikerjakannya selama ini dan mendapatkan Golden Shake hand atas loyalitas selama 10 tahun bekerja.
Senin pagi, mas Handoko menghubungi pak Yanto untuk memastikan pertemuan mereka berdua di hari Rabu. Sampai dengan Selasa sore, tidak ada perubahan akan rencana pertemuan untuk Rabu pagi jam 10.
Kalau saja tidak ada mas Andi, mas handoko mungkin tidak memiliki kesempatan baik seperti ini. Berhenti bekerja dari tempat lama dengan mendapatkan uang lebih dan mendapatkan kepastian pekerjaan baru. Ana juga turut senang karena mendapatkan rejeki yang tidak disangka-sangka. Lumayan, uang dari kantor lama mas Handoko, bisa dibuat modal untuk usaha butik seperti yang diharapkannya, dan tentunya merupakan awal yang bagus untuk ana, karena dia sendiri juga punya rencana untuk keluar dari kantornya dan menjadi ibu rumah tangga.
*******************
Rabu pagi, mas Handoko dengan semangat sudah bersiap-siap untuk bertemu pak Yanto. Walaupun mungkin pertemuan tersebut diprediksi mas Handoko tidak memakan waktu lama, tetapi mas Handoko mengambil cuti satu hari, yah paling tidak bisa agak santailah hari ini, pikir mas Handoko.
Jam 8, hp nya berdering. ”Oooh, begitu ya, pak.” Ana memperhatikan wajah mas Handoko yang terlihat kecewa. ”Baik, pak. Nanti kita bicarakan lagi kapan waktunya, pak” lanjut mas Handoko dengan suara yang masih terdengar ramah walaupun tidak bisa ditutupi kekecewaan yang terbaca jelas diraut wajahnya.
”Yah, direschedule nih.” mas Handoko terduduk lemas. ”Nanti aku akan dihubungi kira-kira kapan lagi pertemuan berikutnya. Mendadak pak Yanto ada meeting dengan direkturnya full day.” mas Handoko melanjutkan keterangannya sebelum Ana menanyakan lebih detail.
Sekali gagal. Ternyata, minggu depan pun setelah schedule ke 2 ditetapkan, gagal juga, karena tiba-tiba saja pak Yanto, mendapatkan musibah ada keluarga dekatnya yang meninggal sehingga dia harus cuti 3 hari ke Bandung, pulang kampung. 2 kali gagal.
Hmmm, Ana mulai merasa tidak nyaman. Tetapi karena mereka berdua tetap berpikiran positif, akhirnya kegagalan tersebut berlalu begitu saja tanpa dikembangkan kemungkinan-kemungkinan negatif yang mulai muncul terutama di sisi Ana.
Sempat berbagai pertanyaan mengalir di kepala Ana, ada apa? Kok bisa sampai 2 kali gagal? Memangnya tidak ada perwakilan lain yang bisa didelegasikan untuk bertemu dengan suaminya? Ana mulai bimbang. Tapi semua pikiran itu disimpannya sendiri. Sedangkan mas Handoko mendapatkan konfirmasi dari mas Andi kalau memang keluarga pak Yanto sedang ada musibah.
Rencana pertemuan ke 3 adalah seminggu setelah pak yanto kembali masuk kantor. Hari Kamis pagi jam 9.00. Sempat was-was juga kalau pertemuan ini pun akan gagal juga. Untuk amannya, mas Handoko hanya izin saja dari kantornya setengah hari. Dia tidak enak, karena waktu efektif dia keluar dari kantornya hanya tinggal 1 minggu lagi, dan mas Handoko masih diminta untuk transfer knowledge kepada bawahannya.
Pagi-pagi sekali mas Handoko sudah bersiap. Kebetulan justru hari ini Ana yang mengambil cuti, karena dia mau anter si kecil May untuk imunisasi.
Mas Handoko terlihat segar dan bersemangat. Tidak lupa Ana berpesan kepada mas Handoko untuk banyak-banyak berdoa agar proses pertemuan dengan pak Yanto lancar.
9.30, ponsel Ana berdering.
“Hmm, aku masih menunggu pak Yanto, nih…” terdengar suara mas Handoko di seberang. “Sebentar ya, ma, sepertinya aku dipanggil tuh. Nanti aku telpon lagi ya,” terkesan terburu-buru mas Handoko menutup telpon sebelum Ana sempat berkata sepatah kata pun.
Tidak lama, ponsel Ana berdering lagi. ”Ma, kamu coba hubungi mas Andi, ya. Aku coba hubungi beberapa kali tapi tidak diangkat.” suara mas Handoko terdengar lemas.
”Ada apa, mas?” tanya Ana penasaran.
“Coba hubungi mas Andi dulu ya, aku tunggu lho. Mungkin kalau dari nomor kamu, dia akan angkat.”
Ana coba menghubungi mas Andi beberapa kali. Tidak diangkat. Ada apa sih? Kok mas Andi susah sekali dihubungi, ya, pikir Ana dengan terus mencoba menghubungi 2 nomor mas Andi.
”Aku tidak berhasil menghubungi mas Andi, nih pa.” Ana memberitahu mas Handoko. Terdengar tarikan napas panjang mas Handoko. ”Bagaimana hasil pertemuan dengan pak Yanto?” Ana mengalihkan pembicaraan dengan bertanya ke mas Handoko mengenai hasil pertemuannya.
Tidak disangka, ternyata jawaban mas Handoko membuat Ana tercengang sesaat, ”Mama tahu tidak. Ternyata tidak ada yang namanya pak Yanto di sini. Sekarang ini aku lagi disuruh tunggu di ruang security.” mas Handoko menjelaskan dengan suara perlahan. Sementara mas Handoko menjelaskan kata demi kata, sambil menyimak semua penjelasan mas Handoko, pikiran Ana melayang. Terbayang wajah suaminya yang memelas. Ya, wajah mas Handoko kalau memelas begitu sebenarnya lucu, mimik wajahnya bisa membuat orang tertawa, tapi Ana tidak tahu lagi apa yang ada dipikirannya. Mau tertawa? Tidak mungkin. Tetapi lekat sekali mimik mas Handoko yang justru terlihat lucu jika dia sedang berada dalam kondisi yang mengagetkan seperti ini. Benar-benar di luar dugaan. Begitu telpon ditutup, Ana terus mencoba menghubungi mas Andi untuk meminta penjelasan.
Ditelponnya kembali mas Handoko, ”Mas tunggu mas Andi saja gimana? Aku lagi terus coba menghubungi mas Andi untuk segera ke sana. “ jelas Ana singkat.
“Menunggu mas Andi? Aku tuh sudah menunggu lebih dari satu jam. Dan saat ini aku masih harus menjawab beberapa pertanyaaan security. Dan asal kamu tahu juga, ma, ternyata tidak ada juga yang namanya Iman. Semua Direktur di sini tidak ada yang namanya pak Iman. Dulu mungkin, tetapi sekarang bukan lagi.” Jelas mas Handoko panjang lebar.
Ana terkesima. Kok bisa? Kenapa mas Andi melakukan hal ini kepada aku dan mas Handoko? Tidak ada satu pertanyaan pun yang ada jawabannya kecuali harus mendapatkan penjelasan langsung dari mas Andi.
Usaha menghubungi mas Andi gagal total. Antara merasa lucu dengan kejadian yang menimpa mas Handoko karena mengingat mimik wajahnya yang menggemaskan sekaligus dikarenakan kebodohan mereka berdua. Bodoh karena tidak bisa menangkap sinyal-sinyal keanehan yang diberikan mas Andi. Minta pasphoto dengan background hitam. Ah, ah… Saat ini bisa dipastikan kalau mas Handoko berusaha bersikap tenang menghadapi semua pertanyaan dari security perusahaan tersebut yang tentunya curiga ada orang asing ingin bertemu dengan orang yang fiktif dengan wajah khas mas Handoko, memelas. Tetapi bagi Ana, wajah mas Handoko justru lucu kalau sedang memelas. Ah, ah, mau tertawa tetapi kok tidak pada tempatnya. Perasaan Ana tidak bisa ditutupi, Ana merasa sangat bodoh. Ternyata sedikit kecurigaannya terbukti sudah. Keanehan yang sempat dirasakannya mengakibatkan pengalaman pahit yang dialami mas Handoko. Ah, mas Handoko, kasihan sekali harus menghadapi sesuatu yang sangat mengagetkan dan menyakitkan. Tetapi jujur bukan hanya mas Handoko sendiri sebagai korbannya tetapi secara tidak langsung, Ana juga. Yah, Ana merasa betapa teganya mas Andi berbuat demikian kepada mereka, terutama yang langsung menghadapi kenyataan yang pahit adalah mas Handoko, harus diinterview akan tetapi bukan oleh pak Yanto atau pak Iman tetapi oleh security kantor tersebut. Bukan hanya seorang tapi sampai 3 orang. Seperti menghadapi sidang sarjana saja, pikir Ana antara sedih dan lucu. Sedih karena hilang sudah harapannya dan tentu saja harapan mas Handoko juga. Lucu karena kok bisa mereke sebodoh itu tertipu oleh saudara sendiri….
Sesampainya di rumah, mas Handoko kehilangan gairah. Dia seperti orang linglung. Tidak banyak bicara. Wajahnya kosong. Melihat mas Handoko seperti ini, bagaimana mungkin Ana tega? Walaupun mimik wajahnya lucu, Ana merasa miris. Ya, dia juga bisa merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Hancur sudah semua harapan yang sudah dibangunnya berdua dengan mas Handoko…..
********************
2 bulan sudah kejadian tersebut terjadi. Bagi mas Handoko, tidak gampang melupakan kenyataan pahit yang terjadi saat itu. Mas Handoko merasa dirinya dipermainkan oleh mas Andi. Janji-janji manis yang membuat mas Handoko menggantungkan harapan, sirna sudah.
Tidak ada jawaban atas semua pertanyaan yang selalu ada dipikiran mereka berdua. Kenapa? Apa salah mereka? Mas Andi seperti hilang di telan bumi. Semua telpon tidak pernah diangkat. Mas Andi menjauh dari mereka, Tidak ada lagi aktifitas saling mengunjungi. Tidak ada lagi acara main bowling bersama. Ah, Ana kehilangan saat hubungan mereka masih harmonis. Ana tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Dia merasa kehilangan sosok kakak, abang, teman dan ayah.
Bagi Ana, ini adalah hal yang sangat sulit sekali. Seperti berada di sebuah persimpangan jalan. Walalupun Ana tahu jalan yang harus dipilihnya adalah tetap berada di samping suami tercintanya, tetapi masalah ini juga menyita seluruh perhatian dan pikiran Ana. Ana hanya bisa memasrahkan semua keadaan ini kepada Allah. Mudah-mudahan kedua orang yang disayanginya ini bisa menemukan jalan untuk berdamai.
Karena kejadian ini mas Handoko juga mulai berubah. Kadang sesuatu hal yang menyangkut keluarga Ana, bisa membuatnya naik darah. Sulit bagi Ana untuk menenangkan mas Handoko karena kekecewaan yang teramat dalam kepada mas Andi. Dan ini pun yang membuat Ana selalu merasakan kesedihan. Ya, Ana masih berharap kalau mas handokolah yang lebih bisa bersikap bijaksana dengan memaafkan mas Andi. Mungkin ini memang berat buat mas Handoko. Tetapi Ana tidak akan menyerah untuk selalu mengingatkan mas Handoko. Yah, karena mas Handokolah dimana dia sering berkomunikasi dan bertemu. Walau pun mungkin mas Handoko bukanlah seperti apa yang diharapkan Ana, imam dan suami yang sempurna. Ana ingin sekali suaminya adalah seorang yang pemaaf, bukan menyimpan kebencian. Bukan karena mas Andi adalah kakak Ana, sehingga Ana bisa dengan mudah memaafkan, akan tetapi Ana justru merasa disinlah letak ujian bagi mereka berdua untuk belajar mengikhlaskan sesuatu dan memaafkan sesuatu. Ya, Anna mengenyampingkan perasaan kecewanya dengan berusaha memaafkan mas Andi, sedangkan mas Handoko masih berkutat dengan kebencian dan kekecewaannya terhadap mas Andi. Begitu besar perbedaan mereka. Bagi Ana, setiap persoalan yang datang adalah justru kesempatan untuk tahu kualitas keimanan masing-masing diri. Yah, kalau hidup biasa-biasa saja dalam kondisi yang normal, bagaimana kita bisa tahu apakah kita manusia yang berkualitas atau bukan. Justru disini pulalah kesempatan untuk menunjukkan kebesaran jiwa sehingga mungkin kita bisa menjadi mahkluk yang lebih berkualitas di mata Allah. Ah, Ana tidak akan pernah berhenti berdoa untuk mas Handoko. Yah, perbedaan inilah mungkin yang melekatkan mereka dan membuat mereka selalu saling mengingatkan satu dengan yang lain. Dan karena perbedaan ini pulalah Ana melihat bahwa ini adalah kesempatan untuk dirinya untuk terus belajar lebih mengikhlaskan diri kepada-Nya. Banyak hal yang membangkitkan kesadarannya, bahwa Ana harus juga belajar menerima segala perbedaaan karena hidup ini memang harus bertoleransi dengan apa yang tidak sesuai dengan harapan. Mudah-mudahan ini semua ada hikmah dan menambah kualitas keimanannya dimata Allah. Ya, Ana yakin Allah akan memberikan yang terbaik kepada hambaNya.
Leave a comment