ADIK

“Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama, tempat, dll maka itu adalah hal ketidaksengajaan dan tidak ada kaitannya dengan cerita atau nama seseorang”

CERITA KARA

Aku tersenyum kecil mengingat janji mama untuk membelikan aku sepeda baru Sabtu minggu ini. Rasanya menyenangkan menjadi anak tunggal. Aku merasa semua kebutuhan dan keinginanku begitu cepat mendapat tanggapan mama dan papa. Perhatian dan kasih saying mereka hanya tercurah padaku seorang.

Aku Kara, satu-satunya anak mama dan papa dan aku adalah anak yang periang. Sebenarnya aku pernah sangat ingin sekali memiliki adik. Dulu aku ingat pernah berbicara kepada mama, “Ma, kapan nih aku punya adik?” Mama tersenyum dan memelukku. Saat itu umurku masih 5 tahun, dan mama menjawab kepadaku, “Sabar ya, Kak…. Mungkin belum saatnya kakak dikasih adik.” Dengan antusias aku jawab ke mama, “Kalau begitu beli aja ma di Supermarket.” Mataku menatap wajah mama dan mama bukan hanya tersenyum tetapi tertawa geli, “Hahaha, anak mama ini lucu sekali,” Dicubitnya pipiku dan pelukan eratnya kembali menenangkan aku. “Ya udah, kalau kakak mau adik di beli di supermarket, nanti mama belikan boneka baby ya.” Dan benar, keesokan harinya, sepulang bekerja, mama membelikan aku sebuah boneka baby yang lucu yang bisa menangis. Tapi sebenarnya bukan itu keinginanku. Aku ingin seperti Ina teman TK aku yang sangat gembira menunjukkan adiknya yang dibawanya ke sekolah pada saat menjemputnya pulang sekolah. Lucu sekali. Tapi aku menerima boneka pemberian mama dengan gembira.

Seiring waktu dimana bertambahnya usiaku, aku justru merasakan hal yang berbeda. Aku mulai merasa bahwa hidupku sangatlah menggembirakan. Memang sepi, Karena aku adalah anak tunggal. Akan tetapi aku merasakan bahwa perhatian dan kasih sayang mama dan papa sangatlah berlimpah kepadaku. Sehingga aku melupakan keinginanku untuk memiliki adik.

Tapi suatu hari, ketika aku naik kelas, aku mendapatkan sahabat baru yang memiliki adik yang lucu. Namanya Nia. Beda umur mereka lumayan jauh, sekitar 5 tahun. Dia selalu bercerita mengenai kelucuan adiknya kepadaku. Bahwa adiknya selain lucu juga sangat menyayanginya. Kalau dia mau bermain ke luar rumah, adiknya akan menangis manja tidak mau dia meninggalkannya dan selalu ingin diajaknya bermain. Dimana hal itu membuatnya merasa bahwa dia menjadi seorang kakak yang disayangi dan dibutuhkan oleh seorang adik. Hmm menyenangkan. Sejak itu, aku selalu dibayangi keinginan untuk memiliki adik. Tetapi ternyata dengan umurku yang sudah 9 tahun, aku mulai mengetahui dan mengerti bahwa mamaku tidak mudah untuk mendapatkan seorang adik. Mama pernah mengalami keguguran 2 kali setelah kelahiranku. Ah, ah sedihnya. Rasanya aku hanya bisa berharap. Sehabis sholat, aku selalu berdoa, semoga Allah memberiku seorang adik. Tetapi sebenarnya ada juga perasaanku yang lain yang mencoba menghiburku bahwa aku sudah cukup enak dengan hanya seorang diri tidak memiliki adik. Aku mendapatkan perhatian penuh dari mama dan papa. Ada ketakutan dalam pikiranku bahwa jika ada adik, maka aku akan kehilangan perhatian dari mama dan papa. Ah, ah…. Tetapi keinginanku untuk memiliki adik begitu kuat. Rasanya lucu membayangkan wajah mungil seorang adik. Dan rasanya pula aku sudah rela berbagi kasih kasih sayang mama dan papa.
******

CERITA MAMA

Siapa yang tidak bahagia? Memiliki anak yang selain cantik juga sangat pandai. Meilisia tersenyum gembira mengingat tingkah polah Kara. Ya, selalu kebanggaan memenuhi relung hati dan pikirannya. Setiap kali datang ke sekolah dan mengambil raport Kara, tidak henti-hentinya dia selalu berucap ”Subhanallah”, rasanya tidak lepas karunia dan rasa syukurnya atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Ya, Kara selalu menjadi juara kelas dan guru-gurunya begitu bangga memiliki murid seperti Kara. Selain memiliki nilai-nilai yang sangat baik di sisi akademik, Kara adalah anak yang supel dan pandai bersosialisasi. Betapa bangganya memiliki buah hati seperti Kara.

Pulang ambil raport, Kara menghampirinya, ”Mama, bagaimana raport aku,” tanyanya dengan binar-binar mata yang selalu membuat Lisa selalu merindukannya, ”Wah anak mama dan papa memang hebat. Kami bangga dengan kamu, nak,” dipeluknya dengan erat buah hati tercintanya. Tidak sabar Kara memintanya untuk melihat-lihat kembali angka-angka yang membuat Lisa tersenyum-senyum gembira. Angka-angka yang menajubkan. ”Kamu memang anak mama yang pintar. Coba sini lihat nilai kamu, wah mama memang selalu yakin bahwa kamu adalah anak yang tidak hanya cantik tapi juga pintar,” mereka berdua terlihat asyik bercengkrama riang. Ya, hari ini Lisa mengambil cuti, ingin menghabiskan waktu dengan Kara karena dia sudah merencanakan akan membawa Kara bermain dan membelikannya hadiah atas prestasi sekolahnya.

Hmm…. Lisa tersenyum sekali lagi menatap buah hatinya yang tertidur pulas setelah seharian mereka bermain dan shopping di Mall. Dilihatnya wajah mungil dan cantik itu tertidur pulas karena kelelahan. Ah, Kara rasanya seluruh cinta dan perhatian kami begitu besar kepadamu. Lisa duduk di samping tempat tidur Kara, memperhatikan wajah cantik dan mungil Kara yang terlihat tersenyum. Malaikat kecilku, gumam Lisa lirih. Bobo yang enak ya, sayang, mama di sini menemanimu.

Ya, saat ini dirinya begitu pasrah. Tidak terlalu ngoyo untuk mendapatkan satu orang keturunan lagi mengingat begitu sulitnya perjuangan Lisa untuk memberikan adik untuk Kara. Ya, sepertinya Kara pun sudah mulai mengerti bahwa dirinya sulit sekali untuk mengandung. Lisa pun tidak terlau menaruh harapan mengingat segala kekurangan didirinya. Walau pun ada sedikit keinginan untuk memberikan Kara seorang adik akan tetapi saat ini dirinya dan suaminya pun cukup bahagia dengan segala apa yang mereka miliki. Ya, selama 9 tahun mengarungi biduk rumah tangga dengan Mas Tri, Lisa merasakan kebahagiaan yang sangat. Memiliki suami yang penuh cinta dan anak yang cantik dan pintar.
****************

Diperhatikannya 2 garis warna biru di tes hasil kehamilan. Lisa tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hamil? Benarkah? Apakah ini mungkin? Beberapa pertanyaan silih berganti menghampiri pikirannya.

Keluar dari kamar mandi, tidak banyak kata-kata yang disampaikannya. Kebetulan saat itu hari Minggu dimana mereka semua sedang berkumpul. Lisa memperlihatkan hasil tes tersebut kepada Mas Tri dan Kara. Dilihatnya keduanya begitu gembira. Kara melonca-loncat kegirangan. Sedangkan dirinya? Masih tidak menyangka bahwa dirinya akan merasakan bagaimana mengandung kembali. Ah, ah, benar-benar sebuah mukzijat. Tetapi apakah dirinya tidak akan mengalami hal yang sama? Keguguran 2 kali sebenarnya cukup membuat dirinya was-was untuk hamil lagi.

Ya, ternyata kehamilan Lisa bukanlah merupakan kehamilan yang gampang. Beberapa kali dia harus bedrest untuk mempertahankan kehamilannya. Dirinya pasrah. Ya Allah kalau memang ini masih rejekiku, maka aku akan dapat memberikan adik untuk Kara, kalau pun tidak, aku pasrahkan yang terbaik untuk kami ya Rab. Doanya selalu tidak lepas. Dan ada satu lagi rasa was-was yang sulit dimengerti. Apakah aku dapat menyanyangi bayi yang saat ini ada di kandunganku seperti aku menyayangi Kara? Dielusnya perutnya yang mulai membesar. Dirasakannya gerakan-gerakan lembut calon anaknya. Ya, perasaan ini begitu asing dan aneh. Rasanya tidak terbayang bagaimana Lisa akan memperlakukan kedua anaknya nanti. Kara adalah anak yang sempurna. Calon bayinya? Ah, ditepisnya perasaan itu. Mudah-mudahan semua bahagia menantikan calon anggota baru dengan harapan baru.

SAAT INI

Kara tersenyum simpul mencoba mengingat semua kenangan lalunya sebelum ada Al, adiknya yang saat ini sudah hampir berumur 1,5 tahun. Ternyata sekarang ini apa yang ditakutkannya terjadi, bahwa ada kecemburuan yang tumbuh dihatinya akan kasih sayang mama dan papa serta perhatian mereka yang sudah terbagi kepada Al. Hati Kara sedang bersedih karena mama baru saja menegurnya karena tidak mau meminjamkan HP nya kepada Al. Ah, mama, kok sekarang jadi lebih sering membela adiknya? Ya, menurutnya mama sekarang sudah berubah, gampang sekali menegurnya terutama yang berhubungan dengan adiknya.

Dicobanya mengembalikan semua memory kenangannya kembali untuk menghilangkan perasaan sedih yang kadang timbul begitu Kara merasa bahwa perhatian mama hanya tercurah pada Al dan mulai kurang memberikan perhatian kepadanya. Diingatnya dulu pertama kali tahu bahwa mama hamil. Betapa bersyukurnya Kara dan papa. Saat itu Kara secara spontan loncat-loncat kegirangan tahu mama hamil. Dan betapa beratnya selama sembilan bulan mama mengandung adik, mama bolak-balik harus dirawat karena kandungannya lemah. Kara pun ingat kesedihan dan kecemasannya, betapa takutnya dia kehilangan kesempatan memiliki adiknya.

Dilihatnya Al yang sedang bermain dengan pistol-pistolannya. Kelucuan Al menyadarkan Kara akan sesuatu. Ah Al, kamu bayi yang lucu. Betapa dulu kami semua menantikanmu dengan harap-harap cemas. Ya, ya, rasanya kelucuan dan keriangan Al menghilangkan perasaan sedihnya. Ya, sebagai kakak, Kara menyadari bahwa dia harus lebih banyak mengalah kepada adiknya. Adiknya yang masih kecil tentunya belum mengerti kalau berbuat salah, dialah yang harus mengajarkan kepada adiknya. Ya, mama benar, dengan mengalah dan mengalihkan perhatian Al kepada mainannya, akhirnya HP Kara tidak jadi dibuat mainan oleh Al. Ya, ternyata, kegembiraan memiliki adik mengalahkan kesedihannya. Kara bersyukur bahwa adiknya sangat lucu dan dapat menyenangkan hatinya. Adiknya pun tidak kalah manja dan menyayanginya seperti adik Nia yang kalau diabaikan olehnya akan menangis dan mencari-cari perhatiannya.

Lisa tersenyum bahagia menatap kedua buah hatinya sedang bercengkerama dan bercanda. Ternyata Al sudah bisa diajak bermain dan responnya sangat baik. Kecemasannya bahwa tidak dapat menyayangi Al seperti kepada Kara terhapus sudah. Justru saat ini, Lisa tidak berhenti belajar bagaimana memberikan kasih sayang yang adil antara keduanya. Kadang dirinya merasa terlalu keras kepada Kara. Ya, Kara, maafkan mama ya kalau mama jadi sering gampang emosi menghadapi tingkahmu yang kadang membuat mama kesal karena tidak mau mengalah dengan adik. Ttapi dia pun tidak berhenti meyakinkan Kara bahwa keduanya adalah buah hatinya yang memberikan harapan dan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Dihampirinya keduanya dan dipeluknya dengan erat ,”Kara sudah tidak ngambek lagi dengan mama?” tanyanya lembut kepada Kara. Kara menggeleng dan membalas pelukannya. Ah, Kara kalau saja kamu tahu betapa kegamangan yang dulu menghampiri mama ketika mengandung adik selama 9 bulan. Karena begitu sayangnya mama kepadamu, sempat terpikir bahwa mama tidak bisa membagi kasih kepada adik. Ah, berikan mama kesempatan untuk menunjukkan menjadi mama yang baik bagi kalian berdua, yakin Lisa di dalam hati……

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *